Aborsi Dengan Kuret, Betulkah Lebih Aman?

“Aku mau kuret aja deh, pasti lebih aman karena ada dokternya.” Banyak perempuan beranggapan kalau aborsi dengan kuret pasti lebih aman sehingga mereka ngotot ingin dikuret. Padahal, untuk usia kehamilan 6-15 minggu sebetulnya aborsi dengan obat jauh lebih aman. Kok bisa? Karena ketika perempuan dikuret di usia kehamilan itu, risiko dinding rahim terluka cukup besar karena metode ini menggunakan benda tajam yang dimasukkan ke dalam rahim. Sebetulnya ada metode lain yang lebih aman dari kuret yaitu vakum dan ini memang disarankan oleh Badan Kesehatan Dunia.

Tapi jangan salah lho. Aborsi dengan obat memiliki kelebihan lain selain kedua metode itu: Perempuan bisa melakukannya sendiri di rumah. Jadi privasi mereka tetap akan terjaga. Kadang memang perempuan merasa khawatir dan tidak yakin bahwa ia bisa dan mampu untuk melakukan aborsi aman sendiri. Padahal nih, sepanjang kamu sudah dibekali pengetahuan yang cukup oleh teman-teman konselor maka kamu bisa melakukan aborsi sendiri di rumah sepanjang semua persiapannya sudah cukup. Apalagi, di Indonesia tidak sedikit lho pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang berusaha mengambil keuntungan akan kehamilan tidak direncanakan yang dialami perempuan. Contoh saja, ketika perempuan tiba di klinik kuret mereka diminta membayar lebih dari harga yang sudah disepakati di awal.

Selain itu, risiko kesehatan yang ditanggung perempuan jauh lebih kecil ketika melakukan aborsi aman dengan obat. Bandingkan sendiri keuntungan aborsi dengan obat di sini.

Aborsi Aman, Yakin Sudah Aman?

Ladies, ketika kamu belanja di online shop apa saja sih yang kalian perhatikan? Pastinya kualitas produk dan harga… dan keamanan dalam berbelanja dong. Misal, kalian akan belanja dari trusted seller yang kalian yakin akan mengirimkan produk tepat waktu dengan kualitas sesuai dengan yang dijanjikan ya. Nah ternyata, aborsi pun sama seperti lho seperti itu. Ada aborsi yang tidak aman dan ada yang aman.

Lalu bagaimana kita bisa tahu, kak, ini aborsi aman atau nggak? Mudah. Proses aborsi aman mengacu pada pedoman yang dikeluarkan oleh lembaga kesehatan terpercaya. Salah satunya, adalah Badan Kesehatan Dunia alias WHO. Contohnya, ternyata aborsi aman hanya bisa dilakukan hingga usia kehamilan 22 minggu. Karena sebelum usia itu janin hanya bisa bertahan hidup di tubuh ibu. Setelahnya, walaupun rahim dikontraksi dan kandungan dikeluarkan hampir pasti janin bisa bertahan hidup. Sama saja dengan proses kelahiran prematur jadi tentu efeknya di tubuh kamu juga akan lebih berat. Perdarahan bisa lebih banyak hingga fatal akibatnya.

Jadi jika ada penjual obat yang klaim bahwa ia bisa menghentikan kehamilan hingga usia lebih dari itu, kamu perlu lebih berhati-hati. Bisa jadi ia hanya menyediakan obat namun kurang paham cara pemakaiannya, atau bisa jadi juga obat yang mereka sediakan sebenarnya bukan obat aborsi aman. Hiii…

Selain itu aborsi aman dengan obat atau aborsi medis perlu dihindari kalau kamu punya riwayat sakit jantung, gagal ginjal maupun infeksi. Wih, kenapa tuh kak? Karena aborsi medis dapat berpengaruh pada perempuan dengan kondisi fisik seperti itu. Tenang saja, kamu tetap bisa mengakses aborsi aman hanya saja dalam kondisi medis seperti ini kamu lebih direkomendasikan untuk mengakses aspirasi vakum.

Terus betul nggak sih kalau aborsi aman hanya bisa dilakukan oleh dokter dan di rumah sakit? Sebenarnya sih dengan persiapan yang cukup, kamu pun bisa kok melakukan aborsi aman di rumah. Yang penting keputusan mengakses aborsi sepenuhnya keputusanmu dan kamu tahu akan seperti apa proses serta apa yang akan kamu hadapi. Pastikan kamu mengumpulkan info sebanyak-banyaknya dari sumber terpercaya dan kalau masih bingung, langsung ngobrol saja dengan konselor.

 

Nah, semoga artikel ini bisa membantu menjawab pertanyaanmu seputar aborsi aman ya. Sampai ketemu di tulisan berikutnya (CP)

Aborsi Medis, Kenali Pantangan-pantangannya

Aborsi medis dengan misoprostol adalah teknik aborsi yang sangat aman dengan risiko komplikasi 1%. Sangat rendah ya prosentase komplikasinya. Tapi tetap saja lho, angka 1% ini bukan berarti tidak ada sama sekali. Kamu tetap perlu jaga-jaga agar aborsimu selalu aman dari risiko komplikasi ini. Ada beberapa aktivitas dan makanan-minuman yang perlu kamu hindari ketika prosesnya dan bahkan setelahnya.

Beberapa aktivitas tersebut sebetulnya bisa kamu temukan di sini jadi artikel kali ini hanya akan menambahkan saja. Yuk, cek satu-satu pantangan apa saja sih sepanjang dan setelah proses aborsi yang lainnya?

Berolahraga berat. Ketika perempuan baru saja menyelesaikan proses penggunaan misoprostol kadang perempuan langsung ingin kembali berolahraga berat untuk menjaga kebugaran stamina dan tubuh. Padahal ketika kamu masih mengalami pendarahan sebetulnya kondisi tubuh juga belum sepenuhnya pulih. Di masa ini tubuh masih sangat membutuhkan nutrisi da istirahat yang cukup untuk bisa beraktivitas kembali. Dalam beberapa kasus, olahraga, apalagi yang berat seringkali menyebabkan rasa nyeri muncul kembali dan perdarahan yang mungkin sempat mereda kembali meningkat volumenya. Santai saja, beri waktu yang cukup untuk tubuhmu beristirahat pasti kamu akan lebih cepat pulih.

Makanan pedas. Misoprostol pada awalnya digunakan sebagai obat tukak lambung, karena itu efek samping yang muncul setelah penggunaan misoprostol mencakup mual, diare juga kram dan nyeri akibat kontraksi dinding rahim. Kebayang kan nggak enaknya perut yang nyeri karena misoprostol dan diare yang masih ditambah mulas-mulas akibat makanan pedas? Kamu penggemar pedas? Tenang saja, kamu bisa kembali menikmati spicy chicken atau menu pedas lainnya setelah lewat dari 3 hari.

Alkohol, kopi, teh dan minuman bersoda. Alkohol, kopi, teh dan minuman bersoda cenderung membuat denyut jantung meningkat. Begitu juga dengan tekanan darah sehingga dikhawatirkan volume perdarahan juga akan meningkat. Lagi-lagi pantangan ini juga berlangsung selama 3 hari setelah penggunaan misoprostol.

Susu. Walaupun belum ada penelitian resmi, namun susu pada dasarnya bersifat menetralisir racun dan obat sehingga sering dikhawatirkan bisa menetralisir reaksi misoprostol yang berakibat proses aborsi gagal. Meskipun begitu setelah 3 hari berlalu biasanya sudah aman untuk kembali minum susu atau produk olahan yang mengandung susu.

Makanan yang tinggi garam. Sama seperti minuman beralkohol, kafein dan soda, garam berlebih juga bisa meningkatkan tekanan darah. Untuk amannya kamu bisa mengkonsumsi makanan rumahan yang biasanya minim penggunaan garam atau roti hingga 3 hari setelah proses aborsi selesai.

Cukup simple kan? Nah semoga dengan mengikuti pantangan-pantangan ini proses aborsimu selalu aman dan terhindar dari risiko komplikasi. 😀

Konseling KTD? Kenapa penting?

Seringkali ketika kita denger kata “KONSELING” bayangan kita adalah guru BP di sekolah jaman SMP atau SMA. Padahal arti konseling sendiri lebih luas dan ternyata konseling bisa jadi sebuah proses yang berguna dan bermanfaat banget buat kita. Apalagi, ketika kita mengalami Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD). Kenapa sih konseling KTD penting? Simak yuk apa yang bisa kamu dapat ketika konseling!

1. Kamu bisa ceritain situasimu tanpa takut dinilai yang aneh-aneh. Kadang ketika kita ngalamin situasi KTD, kita bingung mau cerita sama siapa. Masa iya, belum nikah hamil terus cerita-cerita. Nanti kita malah dibilang cewek nakal, pergaulannya ga bener, dan blah..blah..blah.. Padahal, KTD itu situasi yang umum banget. Buat perempuan yang udah nikah ataupun belum menikah, KTD bisa terjadi. Nah, dengan konseling, kamu bisa ngobrol dan curhat soal situasi KTDmu tanpa takut diberi stigma atau label yang negatif. Kebayang kan rasa leganya ketika kamu bisa cerita dengan leluasa tanpa distigma?

2. Kamu bisa tau dan diajak melihat pilihan-pilihan yang kamu punya dalam situasi KTD. Kalo kata orang, yang belum nikah kalo hamil ya jadi manten! Atau, kalau yang udah nikah, yaudah sih, udah nikah juga tinggal dilahirin trus dibesarin. Eittss.. tunggu dulu! Ga semua perempuan siap lho dengan kehamilan. Kehamilan itu perlu direncanakan dan disiapkan karena ini bukan perkara sepele kayak kamu jatoh dari motor trus bisa diobati pake obat merah. Nah, dengan konseling, kamu bisa tahu bahwa kamu punya pilihan dan juga dibantu untuk memetakan pilihan-pilihan itu.

3. Kamu mendapatkan dukungan. Coba kamu lihat disekitarmu. Teman-teman yang mengalami KTD seringkali dijauhi, digunjingkan, dan diberi cap negatif. Ini bisa bikin perempuan mengalami stres dan rendah diri. Padahal di sekitarmu dan di luar sana, kamu bisa temukan dukungan-dukungan yang sangat berarti. KTD bukan akhir dari segalanya!

4. Kamu menambah pengetahuan dan mampu menyelesaikan masalahmu. Ketika kamu mengalami KTD, yang pertama kamu rasakan pasti bingung, sedih, gundah gulana. Tapi, dengan konseling kamu bisa dapatkan pengetahuan yang scientific dan juga kamu bisa belajar untuk menjadi lebih matang dalam membuat keputusan serta menyelesaikan masalahmu. Kamu pun jadi paham mengenai hak-hakmu sebagai seorang individu.

5. Kamu bisa memberikan dukungan yang sama untuk perempuan lain. Udah dapet pengetahuan, paham hak-hakmu, pilihan-pilihanmu, dan bisa berbuat baik pula! Nah, kira-kira sesederhana itu membayangkan proses konseling KTD. Dengan konselor yang ramah, asik, dan pastinya akan membuatmu merasa lebih baik.

Kamu bisa simak juga di video berikut kenapa sih Konseling KTD itu penting.

Cheers!(TZ)

Mau Aborsi Tapi Masih Ragu? Coba Baca Ini Dulu

Perempuan kadang menunda akses aborsi aman karena mereka masih ragu dengan pilihan ini, padahal semakin dini kamu mengakses aborsi aman akan semakin baik. Nah kali ini kita akan membahas apa saja yang biasa membuat perempuan ragu mengakses aborsi aman. Harapannya, setelah membacanya kamu akan bisa menentukan langkah secepatnya.

  1. Aborsi tidak aman bagiku Faktanya: Aborsi jauh lebih aman dari cabut gigi bahkan melahirkan secara normal. Seaman apa sih aborsi medis yang dilakukan dengan tepat? Baca ini dulu untuk menjawab kekhawatiranmu. Yang perlu kamu pastikan tentu saja bahwa aborsi medis yang kamu akses memang betul-betul sudah aman.
  2. Aku takut trauma setelahnya Faktanya: Merasa sedih, marah dan berbagai emosi negatif lain setelah aborsi itu wajar banget kok. Selain hormonmu sedang naik turun karena peralihan tubuh yang tadinya hamil menjadi tidak hamil, faktor sosial yang masih kerap memberikan stigma terhadap perempuan yang pernah aborsi juga bisa menjadi tekanan bagimu. Trauma juga seringkali muncul karena informasi yang simpang siur soal aborsi atau kondisi psikologismu. Pastikan kamu sudah mendiskusikan semua hal yang perlu kamu tahu dengan konselormu sebelum mengakses aborsi aman.
  3. Aku takut tidak bisa hamil lagi setelah ini Faktanya: Misoprostol tidak mempengaruhi kesuburanmu. Karena itu setelah masa follow up selesai kamu bisa langsung subur, bahkan hamil lagi. Masih mau menunda kehamilan? Pastikan kamu dan pasangan selalu disiplin menggunakan kontrasepsi sesuai petunjuk pemakaian yang tepat.
  4. Aku takut orang memandangku sebagai perempuan yang kejam Faktanya: Kekhawatiran ini sangat wajar mengingat masyarakat yang masih kurang punya kesadaran terhadap Hak Seksual dan Kesehatan Reproduksi (HKSR). Padahal tidak ada perempuan yang melakukan aborsi untuk kesenangan pribadi. Tapi kamu tenang saja, aborsi medis yang dilakukan sendiri sebetulnya sangat terjaga privasinya. Karena itu kamu tidak perlu membicarakannya dengan orang lain jika kamu ragu, apalagi jika kamu belum mempercayai orang itu atau kurang merasa didukung.
  5. Aku tidak punya biaya Hey ladies, harga obat aborsi yang direkomendasikan adalah Rp. 500.000 – 1.000.000 per paket. Kalau kamu diminta membayar lebih cari saja penyedia obat lain! Jika uang yang kamu miliki bahkan kurang dari itu pastikan kamu membicarakan semuanya dengan konselormu ya.
  6. Aku takut gagal Ini salah satu kekhawatiran yang wajar sekali, apalagi karena masih ada risiko gagalnya tindakan sebesar 14%. Jika kamu mengalami kegagalan aborsi medis langsung saja telepon konselormu untuk memastikan langkah-langkah yang bisa kamu ambil.

Cytotec, Gastrul, Misotab … Apa sih Bedanya?

Kadang perempuan kebingungan memastikan obat yang tepat untuk menghentikan kehamilan. Sebetulnya nama obat yang perlu digunakan itu apa sih? Cytotec, gastrul atau misoprostol?

Nah Ladies, sebetulnya obat yang digunakan dalam menggugurkan kandungan bernama misoprostol. Lalu apa bedanya dengan gastrul, cytotec, atau bahkan misotab? Tidak ada. Jika misoprostol sendiri adalah jenis obatnya maka gastrul, cytotec dan lainnya adalah merk obatnya. Ini sama saja dengan suplemen vitamin C, ada banyak sekali merk suplemen vitamin C yang kita tahu di pasaran, tapi kandungannya tetap vitamin C.

Kalau beda-beda merk begitu sebetulnya mempengaruhi efektivitas nggak sih? Tentu saja tidak. Yang mempengaruhi kelancaran proses aborsimu adalah keaslian obat, dosis dan cara pakai yang tepat. Nah sekarang sudah nggak ragu lagi kan dalam memilih obat aborsi? Kalau masih ragu sih langsung aja isi formulir ini dengan meninggalkan kontak yang bisa dihubungi. Mau lebih cepat? Cus telepon temen-temen konselor, Senin – Jumat 10.00 – 21.00

  • 0857 2900 1188
  • 0813 2717 1188
  • 0896 7467 7433
  • 0878 3977 0033

Atau chat aja, Senin – Sabtu 10.00 – 15.00 & Minggu 10.00 – 14.00

  • LINE: samsara.hotline
  • WA: +30 695 593 9180

Kapan Bisa Pakai Kontrasepsi Setelah Aborsi?

Kamu baru saja menyelesaikan proses aborsi medis dan ingin menunda kehamilan, tapi kamu masih punya satu pertanyaan besar: Kapan sih boleh pakai kontrasepsi setelah aborsi medis? Nah, artikel kali ini spesial menjawab pertanyaan kamu-kamu yang memang ingin menunda kehamilan selepas proses aborsi medis. Semoga membantu yaaa ;D

 

  • Kondom

Ketika kamu sudah dinyatakan aman untuk berhubungan seks yaitu sekitar 7 hari setelah aborsi medis atau saat perdarahan sudah berhenti. Kamu bisa langsung minta pasangan untuk memakai kondom setiap kali akan berhubungan seks. Kondom cukup efektif dalam mencegah kehamilan tidak direncanakan dan sejauh ini juga merupakan satu-satunya alat kontrasepsi yang bisa mencegah penularan infeksi menular seksual bahkan AIDS lho!

 

  • IUD atau Implan

Segera setelah kantong kehamilan keluar kamu bisa langsung menggunakan IUD. Coba diskusikan penggunaannya dengan ob-gyn terdekat. Kamu bisa bilang kalau kamu baru saja mengalami keguguran dan masih ingin menunda kehamilan.

  • Kondom Perempuan

Kamu bisa mulai menggunakan kondom untuk perempuan ketika sudah dinyatakan aman untuk berhubungan seks lagi atau sekitar 7 hari setelah aborsi. Oya, untuk penggunaan kondom ini pastikan hanya salah satu pihak saja yang menggunakan. Jangan kombinasikan kondom untuk laki-laki dan kondom perempuan karena gesekan di permukaannya justru dapat merobek kondom.

  • Cervical Cap dan Spermisida

Sama seperti kondom perempuan, cervical cap bisa mulai digunakan setelah 7 hari setelah aborsi medis atau ketika perdarahan sudah berhenti. Gunakan bersamaan dengan spermisida untuk mendapatkan perlindungan maksimal.

  • Tubektomi

Jika kamu sudah paham dan yakin kalau kamu memang ingin melakukan tubektomi kamu bisa melakukannya langsung setelah proses aborsi medis (seketika itu juga). Bergantung pada metodenya sendiri, sangat kecil kemungkinan kamu bisa hamil kembali. Karena itu metode ini sebenanrya lebih ideal bagi mereka yang memang memilih tidak memiliki anak.

  • KB hormonal

KB hormonal mencakup suntik, susuk, koyo dan pil. Kamu perlu menunggu sekitar 5-7 hari setelah menggunakan misoprostol untuk bisa menggunakan metode kontrasepsi ini. Oya, untuk KB hormonal kedisiplinan adalah faktor kunci keberhasilan penggunaannya. Jadi pastikan kamu selalu kontrol ke ob-gyn atau mengkonsumsi pil KB tepat pada waktunya.

  • Cincin Vagina

Sebenarnya cincin merupakan salah satu metode KB hormonal, tapi berbeda dengan KB hormonal lain, cincin bisa langsung dipakai setelah misoprostol digunakan. Meski begitu, jika perdarahanmu cukup banyak dalam proses aborsi atau bahkan terjadi perdarahan berat kamu perlu menunggu sekitar 2-3 hari sampai bisa menggunakan cincin vagina.

Oke, segini dulu obrolan tentang kontrasepsi. Pastikan kamu tetap aman dari kehamilan tidak direncanakan ya!

 

sumber: www.ipas.org, http://www.ourbodiesourselves.org

 

 

Mitos dan Fakta Seputar Aborsi Aman

Ladies, apa kabar kalian? Semoga tetap sehat ya. Nah, mungkin beberapa dari kalian ada yang mengalami kehamilan tidak direncanakan (KTD) dan berpikir untuk menghentikan kehamilan. Sayangnya, banyak lho perempuan yang masih terjebak dan mengikuti mitos-mitos seputar aborsi sehingga terlambat mendapatkan penanganan yang tepat.

Jadi sebenarnya apa saja sih mitos dan fakta seputar aborsi? Nah kali ini kalian akan bisa mencermati sejumlah mitos dan fakta seputar aborsi. Semoga membantu!

1.“Aku makan nanas merah banyak, pasti kandunganku akan segera luruh”

Mitos. Faktanya, walaupun nanas memang mengandung bromelain yang dapat memecah protein namun jumlah yang terkandung dalam sebuah nanas utuh sangat rendah sehingga aborsi tidak akan terjadi.

Lalu bagaimana aku bisa mendapatkan aborsi aman? Kamu bisa mendapatkan info tentang obat aborsi aman di sini. Telepon sekarang jadi kamu bisa cepat mendapatkan bantuan yang kamu perlukan.

2. “Aku sudah pakai pil gastrul/cytotec dan mengalami flek selama beberapa hari, pasti sekarang kehamilanku sudah berhenti dong”

Belum tentu. Indikator keberhasilan swa-aborsi dengan obat adalah apakah kantong kehamilan dan janin/embrio memang keluar. Untuk usia kehamilan 6-8 minggu memang mungkin sulit untuk memastikan adanya embrio karena ukurannya yang kecil. Pastikan kamu melihat adanya kantong kehamilan.

Bagaimana aku memastikan kelancaran aborsiku? Dokumentasikan apa saja yang keluar selama perdarahan sedetil mungkin, baik dengan catatan atau foto lalu diskusikan dengan konselormu. Mereka akan membantu memastikan sejauh mana kelancaran proses. Jangan lupa musnahkan semua dokumentasi ini setelah aborsimu sukses.

3. “Minum obat pelancar haid bisa membuat isi rahimku luruh”

Mitos. Faktanya: Pelancar haid berbeda dengan obat aborsi. Belum ada penelitian yang memastikan efektivitas pelancar haid dalam menghentikan kehamilan karena itu pastikan kamu menggunakan obat yang tepat untuk menghentikan kehamilan.

4. “Aku sedang aborsi, aku pasti perlu mengkonsumsi antibiotik supaya tubuhku selalu sehat”

Mitos. Faktanya: Menggunakan terlalu banyak obat sendiri selalu berdampak kurang baik pada tubuh. Bisa saja kamu jadi kebal terhadap antibiotik atau bahkan penggunaan terlalu banyak obat berdampak kurang baik pada organ tubuhmu.

Lalu kapan aku membutuhkan antibiotik ketika aborsi? Kamu akan membutuhkan antibiotik ketika kamu memang memiliki riwayat infeksi tertentu yang berkepanjangan seperti HIV misalnya. Pastikan terlebih dulu dengan konselormu apakah kamu memang membutuhkan antibiotik atau tidak.

5. “Saat aborsi dengan obat pasti aku tidak boleh konsumsi obat-obatan lainnya”

Mitos. Faktanya walaupun kamu perlu menghindari antibiotik jika tidak memiliki riwayat infeksi tapi kamu tetap bisa menggunakan obat-obatan untuk meredakan rasa sakit maupun alergi serta suplemen pendamping. Konsultasikan penggunaannya dengan konselormu.

6. “Aku sudah menggunakan obat aborsi dengan dosis yang tepat tapi belum juga melihat reaksi yang ditunggu, pasti aborsiku gagal”

Belum tentu. Masa observasi untuk memastikan apakah aborsimu berjalan lancar atau tidak adalah 3 hari, kadang bisa sampai seminggu atau lebih karena kepekaan perempuan dengan misoprostol berbeda-beda.

Jadi aku sebaiknya bagaimana? Tunggulah hingga 10 hari untuk melakukan USG. Kalau kehamilan masih berlanjut hubungi konselormu dengan menyertakan hasil USG terbaru supaya kamu bisa mendapatkan dosis yang sesuai dengan usia kehamilanmu saat itu.

7. “Untuk membantu proses aborsiku berjalan lebih cepat aku perlu olahraga berat”

Mitos. Faktanya: Ketika kamu baru saja melakukan aborsi aman kamu akan mengalami perdarahan selama 3 minggu, bisa lebih singkat namun bisa juga lebih lama. Olahraga berat dapat menyebabkan fisikmu kelelahan dan risiko infeksi meningkat.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Perbanyak makan seimbang, minum air putih dan istirahat. Jika kamu perlu kembali berkegiatan (kuliah, bekerja) pastikan kamu setidaknya sudah beristirahat selama 3 hari dan setelah itu pun hindari aktivitas fisik yang berat hingga perdarahanmu berhenti.

8. “Janinku berada di luar kandungan tapi obat aborsi pasti bisa meluruhkannya”

Mitos. Faktanya: Misoprostol atau cytotec bekerja dengan meluruhkan dinding rahim dan isinya. Kehamilan di luar kandungan alias ektopik tentu saja tidak akan ikut luruh bersama dinding rahim dan isinya sehingga kehamilan tetap berlanjut.

Yang bisa kamu lakukan: Kehamilan ektopik adalah salah satu situasi di mana kehamilan dapat berakibat fatal pada perempuan. Temui ob-gyn atau bidan terdekat dan jelaskan keadaanmu sehingga kamu tetap dapat mengakses aborsi aman dan legal.

9. “Aku punya riwayat penyempitan pembuluh darah jantung, tapi sudah lama tidak kumat. Harusnya aku bisa aborsi dengan obat”

Mitos. Faktanya: Penyempitan pembuluh darah jantung merupakan salah satu gangguan jantung. Hal ini dapat berakibat fatal dalam proses aborsi.

Yang bisa kamu lakukan: Penyempitan pembuluh darah jantung dapat berakibat serius hingga fatal dalam proses kelahiran normal. Temui ob-gyn atau bidan terdekat dan ceritakan keadaanmu. Minta aspirasi vakum dari mereka karena tindakan aborsi legal dilakukan jika kehamilan dapat mengancam keselamatanmu.

10. “Sudah hampir 4 minggu setelah aborsi aku masih mengalami perdarahan, aku pasti mengalami perdarahan hebat”

Mitos. Faktanya: Walaupun masa follow-up diperkirakan berlangsung selama 3 minggu namun banyak juga perempuan yang mengalami perdarahan selama lebih dari itu. Nah, perdarahan hebat sendiri bukan dilihat dari berapa minggu kamu mengalami perdarahan tapi dengan menghabiskan 6 pembalut reguler selama 2 jam berturut-turut. Selain itu bisa jadi kamu langsung mengalami menstruasi lagi setelah aborsi.

Yang perlu kamu lakukan: Pastikan perdarahanmu tidak berbau seperti telur busuk maupun daging busuk. Perhatikan juga warnanya, ketika mengalami infeksi maka biasanya perdarahan akan tercampur dengan keputihan berwarna kuning, kehijauan, hingga berbusa. Jika perdarahanmu mulai mengalir deras seperti keran terbuka hitung lagi berapa pembalut reguler yang telah kamu habiskan dalam 2 jam berturut-turut.

Perhatikan pola istirahat dan kegiatanmu setelah aborsi. Untuk terhindar dari infeksi pastikan kamu cukup istirahat dan menghindari hubungan seksual selama minimal 7 hari setelah aborsi.

Wah ternyata banyak ya mitos seputar aborsi. Tapi sebenarnya masih banyak lagi mitos seputar aborsi. Nah ke depannya akan dikumpulkan lebih banyak lagi. Tunggu ya! ;D

Testpack Samar Setelah Aborsi, Ada Solusinya kok

Sudah tiga minggu sejak penggunaan misoprostol, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kamu pun melakukan tes kehamilan dengan penuh harap. Tapi… ternyata hasil tes kehamilannya belum negatif. Ada satu garis tegas dan satu garis samar pada alat tes kehamilan atau testpacknya, padahal kamu yakin sudah melihat keluarnya hasil konsepsi yang diharapkan saat prosesnya.

Uh, pasti langsung down rasanya setelah menanti-nanti hasil negatif pada alat tes kehamilan. Eit, tenang dulu. Jangan langsung berpikir kalau kamu masih hamil, apalagi berpikir kalau hasil tes yang samar disebabkan kondisi fisik yang kurang sehat atau hilang rasa percaya diri dan bergegas ingin kuret. Lho kenapa begitu?

Hasil tes kehamilan yang samar sebenarnya disebabkan hormon kehamilan yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhmu. Ini biasanya merupakan indikator adanya sisa jaringan dalam rahim. Jadi apakah kamu perlu mengulang prosedur aborsi atau bahkan kuret? Sama sekali tidak.

Yang perlu kamu lakukan kalau hasil tes kehamilan masih samar adalah segera lakukan USG dan pastikan sebesar apa jaringan atau kantong kehamilan yang tersisa. Jika sisa jaringan kurang dari 2 cm maka nantinya akan dibersihkan sendiri oleh tubuh di menstruasi berikutnya. Tapi kalau lebih dari itu langsung saja hubungi konselormu untuk prosedur pembersihan. Tenang saja, prosedur pembersihan ini tidak akan menggunakan obat sebanyak yang kamu butuhkan untuk aborsi.

Lalu bagaimana kalau aku masih perdarahan dan hasil testpack masih positif Kak? Pertama-tama, pastikan kalau perdarahan yang terjadi bukan perdarahan hebat. Perdarahan yang berlangsung lebih dari 3 minggu bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Coba diskusikan langsung dengan konselormu langkah apa yang bisa kamu ambil untuk perdarahan dan hasil tes kehamilan yang masih positif ini.