Aborsi Sebagai Suara Hati Perempuan

Oleh: Yendi Amalia

Membicarakan aborsi sebenarnya membicarakan perempuan. Karena itu persoalan aborsi adalah juga persoalan perempuan, yang sampai sekarang, dianggap Gadis Arivia, perlu dielaborasi dan dicerahkan kepada pihak-pihak yang mengambil satu sisi perdebatan, yakni cara pandang tradisional yang justru mengesampingkan kepentingan perempuan sendiri.Selama ini masih banyak yang memandang aborsi sebagai hitam dan putih yang sama sekali tidak dapat bersinggungan, hingga hanya tersedia dua pilihan untuk menyikapinya: pro atau kontra. Setuju atau menolak. Perempuan dalam hal ini juga selalu dipandang sebagai pelaku tunggal aborsi, di mana masyarakat dan pemerintah seperti menutup mata dengan adanya permasalahan dalam aborsi yang mau tidak mau berkaitan langsung dengan kehidupan perempuan dan orang-orang di sekitarnya.

Faktanya, tidak kurang dari 2 juta perempuan Indonesia setiap tahun melakukan aborsi karena Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Hasil penelitian oleh Pusat Kesehatan UI dan Yayasan Kesehatan Perempuan tahun 2003, ditemukan bahwa 87% mereka yang melakukan aborsi adalah ibu rumah tangga yang memiliki suami. Ditemukan pula bahwa dari 2 juta kasus pertahun itu, kebanyakan melakukan aborsi yang tidak aman. Selain itu, di ASEAN, Indonesia merupakan yang tertinggi dalam angka kematian ibu. Salah satu faktor yang menyebabkan kematian tersebut adalah pendarahan, dan kasus pendarahan terjadi pada kasus aborsi yang tidak aman. Kasus aborsi yang menyebabkan kematian berkisar antara 13-50 % dari kasus kematian akibat pendarahan.

Berdasarkan laporan WHO tahun 2006, angka ini meningkat menjadi 2,3 juta kasus per tahun. Diasumsikan terjadi 6.301 kasus setiap hari atau 4 kejadian setiap detiknya. Fakta yang mengejutkan bahwa 70% dari pelaku aborsi tersebut adalah ibu rumah tangga. Penelitian Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2003 menyebutkan 87% yang melakukan aborsi adalah istri dan ibu, hanya 12% oleh remaja putri. Hasil riset ini jauh berbeda dengan anggapan bahwa aborsi identik dengan seks bebas yang mengakibatkan KTD. Riset-riset tersebut merupakan riset klinis, dalam artian data tersebut didapatkan dari rumah sakit, klinik atau puskesmas. Itu sebabnya hasil riset menunjukkan bahwa mayoritas pelaku aborsi adalah ibu rumah tangga. Namun, riset tersebut tidak menjangkau aborsi ilegal yang banyak dilakukan oleh perempuan pra-nikah. Padahal, menurut Inna Hudaya dari Samsara, badan layanan penyuluhan aborsi berbasis dalam jaringan, dari jumlah itu pasti lebih besar lagi, karena ibarat fenomena gunung es, perempuan pra-nikah yang mau melakukan aborsi pasti sungkan dan tidak mudah mendapatkan akses pelayanan ke rumah sakit, puskesmas atau klinik karena terbentur dengan persyaratan umur, status atau ekonomi.

Selama ini, ketika dihadapkan pada persoalan kehamilan yang tidak dikehendaki, perempuan adalah pihak yang paling terbebani dan paling bertanggung jawab. Ketika menginginkan pelayanan aborsi yang aman, nyaris tidak ada dokter yang mau membantu. Begitu juga saat perempuan berkata bahwa ia tidak menghendaki kehamilannya, dokter akan menolak. Hal yang menghambat pelayanan aborsi oleh dokter, menurut Prof. Dr. Sudraji Sumapraja SpOG dari POGI karena adanya sumpah dokter Indonesia yang antara lain menyatakan “menghormati semua hidup insani mulai dari saat pembuahan”. Yang artinya, kebanyakan para dokter menganggap bahwa kehidupan telah dimulai saat sel telur dan sperma bertemu. Karena itu aborsi dipandang sebagai kejahatan terhadap nyawa.

Akibatnya kebanyakan dari mereka kemudian lari ke praktek dukun pijat atau melalukan aborsi sendiri. Kasus seperti inilah yang paling sering menimbulkan resiko pendarahan dan berujung kematian. Dalam www.womenonweb.org, situs mengenai aborsi, ditulis bahwa setiap tahunnya 42 juta perempuan di dunia melakukan aborsi dan setiap 7 menit seorang perempuan meninggal dunia secara sia-sia karena melakukan aborsi yang tidak aman.

Setiap kasus aborsi muncul dan terungkap, masyarakat hanya melihat permasalahan aborsi hanya sebatas masalah moral dan kriminal. Jika dilihat lebih jauh dan dalam, apakah memang benar bahwa aborsi adalah persoalan yang hitam putih? Bagaimana koridor agama dan Undang-Undang mengatur aborsi? Lalu apa yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk menyikapi masalah aborsi dan perempuan sebagai pelakunya?

Aborsi menjadi pilihan saat terjadi kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Di masa Yunani kuno, kehamilan yang mendadak juga sesuatu yang tidak begitu diinginkan, bukan hanya bagi wanita yang telah menikah tetapi juga mereka yang belum. Untuk menghadapi hal demikian, orang-orang Yunani mempraktekkan perlindungan selama hubungan badan atau melakukan aborsi. Dalam kasus kehamilan mendadak, perempuan-perempuan Yunani biasanya harus memilih antara menggugurkan dengan sengaja (dengan mantera-mantera, melakukan pekerjaan berat atau pekerjaan badan) dan aborsi. Segalanya bergantung kepada wanita tersebut dalam menentukan cara apa yang akan ia gunakan. Hanya dalam kasus aborsi, kehadiran sang suami atau tuan (jika ia budak) sangat dibutuhkan.

Ketika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), hanya ada 3 pilihan: menjadi orangtua (ibu), adopsi atau aborsi. Tidak sedikit perempuan di luar nikah memilih pilihan yang terakhir. Banyak yang kemudian berpikir bahwa setelah aborsi perempuan merasa lega. Benarkah demikian? Apakah aborsi merupakan jalan terbaik dan tidak memiliki konsekuensi yang fatal? Atau aborsi dengan alasan apa pun tidak boleh dilakukan karena pelakunya akan melanggar etika, moral dan dianggap sebagai pelaku kejahatan?

Pertama-tama mari kita pahami lebih dulu apa itu aborsi. Mengacu pada Kees Berten, kata aborsi sendiri berasal dari bahasa Inggris Abortion yang mengacu pada dua arti. Pertama, aborsi yang mengandung arti keguguran yaitu secara tidak sengaja mengeluarkan janin yang belum waktunya lahir. Ini disebut juga abortus spontan. Kedua, tindakan sengaja untuk mengeluarkan janin dikarenakan suatu alasan dan hal itu bertentangan dengan undang-undang. Ini dibedakan menjadi tiga, yaitu abortus buatan yaitu abortus terjadi sebagai akibat suatu tindakan; kedua abortus terapeutik yaitu abortus buatan yang dilakukan atas dasar alasan medis untuk kepentingan ibu, baik fisik, mental maupun sosial; yang ketiga adalah abortus nonterapeutik yaitu abortus buatan yang dilakukan tidak atas dasar alasan medis. Terjadi perdebatan yang menyangkut dilakukannya abortus yaitu antara kelompok pro-choice dengan kelompok pro-life.

Mereka yang dapat menyetujui tindakan abortus, menekankan hak perempuan bersangkutan untuk mengambil keputusan tentang tubuhnya sendiri. Ini yang dinamakan dengan pro-choice. Sedang mereka yang menolak abortus sebagai tindakan yang tidak etis, menggarisbawahi hak fetus dalam kandungan (pro-life). Masalahnya adalah apakah fetus di dalam kandungan ibunya sungguh-sungguh memiliki hak itu? Saat pembuahan atau pada saat lebih lanjut dalam perkembangannya.

Menurut World Health Organization (WHO) pengertian aborsi adalah penghentian kehamilan sebelum janin berusia 20 minggu karena secara medis janin tidak bisa bertahan di luar kandungan. Sebaliknya bila penghentian kehamilan dilakukan saat janin sudah berusia berusia di atas 20 minggu maka hal tersebut adalah infanticide atau pembunuhan janin.

Seperti disebutkan di atas, dua kubu yang menyikapi aborsi, kelompok pro choice dan kelompok pro life saling berseberangan. Pro choice menyetujui legalisasi aborsi atas permintaan, mereka menamakan dirinya sebagai pro-pilihan. Kelompok ini setuju pada pilihan dan cenderung percaya bahwa fetus bukan makhluk manusiawi, atau dia (jika makhluk manusia) tidak mempunyai hak dan kepentingan dan tidak logis dilukiskan sebagai tak bersalah atau pun bersalah. Bahkan mereka mengatakan bahwa reproduksi manusia merupakan masalah yang sangat serius, pada umumnya berpandangan bahwa hak wanita akan kebebasan prokreatif bersifat mutlak dan harus tidak dihalangi. Sementara kelompok pro life anti dan menentang aborsi. Kelompok ini memandang bahwa fetus manusia merupakan makhluk yang tidak bersalah dan tidak boleh dibunuh dalam situasi apa pun. Bagi mereka, fetus memiliki hak atas kehidupan yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun, sama seperti membunuh orang yang tidak bersalah tidak bisa dibenarkan, karena ia berhak atas kehidupan. Kelompok pro life berpandangan bahwa hak wanita akan kebebasan prokreatif tidak mutlak.Maka aborsi dalam lingkup tertentu boleh jadi kurang jahat dibanding kejahatan lainnya. Akan tetapi tidak ada kejahatan, betapa pun kurang, yang secara moral netral.

Dalam koridor agama, banyak pandangan yang tetap menganggap bahwa aborsi adalah dosa besar dan hukumnya haram. Di dalam Islam, terdapat beragam pandangan. Pandangan pertama dan yang paling populer di Indonesia adalah pelarangan pengguguran kandungan dalam umur berapa pun. Beberapa aliran di Indonesia bahkan mengharamkan pemakaian alat kontrasepsi. Namun, Avicenna atau Ibn Sina yang hidup pada zaman keemasan Islam (980-1037 M), memperkenalkan kontrasepsi pada dunia Barat yang saat itu masih dalam Abad Kegelapan. Dengan keahliannya pada dunia sains, Ibn Sina mampu menemukan sekitar 20 cara untuk mengontrol kelahiran. Sebuah aliran Islam lain menyetujui aborsi sebelum umur 40 hari. Muhammad Ibn Abi Said, misalnya, memperbolehkan pengguguran kandungan sebelum umur 80 hari. Bahkan sebuah aliran lainnya menyatakan pengguguran kandungan sebelum 120 hari tidak merupakan pembunuhan.

Beberapa Gereja Katolik juga telah menyetujui aborsi, baik secara diam-diam maupun terbuka. Gereja Katolik yang menyetujui aborsi dengan terbuka adalah FutureChurch di Cleveland Ohio, berdiri pada tahun 1990. Beberapa insan Katolik yang mencoba menghentikan penghujatan terhadap aborsi bergabung dalam Catholic for Free Choice (CFC). Salah satu pengurus CFC adalah Rosemary Ruether, profesor teologi di Garrett-Evangelical Theological Seminary di Illinois. Berbasis di Washington DC, CFC turut menandatangani pernyataan yang dipublikasikan di New York Times pada 7 Oktober 1984. Dalam pernyataan ini disebutkan, tradisi Gereja Katolik mempunyai lebih dari satu pandangan mengenai aborsi sehingga pelaku aborsi tidak seharusnya dijuluki sebagai orang berdosa. Gereja Katolik lain yang tidak melontarkan hujatan akan aborsi adalah Gereja Katolik Bebas. Salah satu pastor Gereja ini, Harry Aveling menyatakan bahwa Gereja Katolik bebas tidak memberi pandangan tertentu mengenai aborsi karena bagi mereka aborsi adalah masalah pribadi.

Sains dan praktik kedokteran pun mempunyai pandangan berbeda-beda. Walaupun beberapa dokter dengan tegas menyatakan peniadaan janin adalah pembunuhan, beberapa dokter lain berpendapat embrio yang berumur kurang dari tiga bulan tidak lebih keprimitifannya dari seekor katak ataupun ikan. Oleh karena itulah, hak hidup si janin masih tergantung pada badan yang mengandungnya, yaitu sang ibu. Dalam pandangan ini, para pembela aborsi pun dapat disebut pro-life karena hak untuk aborsi adalah hak yang membela kehidupan perempuan.

Beberapa orang melakukan aborsi dengan alasan yang beragam, antara lain: malu pada keluarga dan masyarakat karena hamil, masalah keuangan, faktor genetika, kesehatan mental, terlalu muda atau terlalu tua untuk hamil, masih menempuh pendidikan, memiliki alasan pribadi untuk tidak memiliki anak, alasan kesehatan, memiliki masalah hubungan dengan pasangan atau karena diperkosa dan inses. Aborsi juga dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melakukannya sendiri, datang ke klinik atau rumah sakit, dengan obat-obatan, ramuan bahkan pijat. Hasil penelitian kepada para pelaku aborsi juga menunjukkan reaksi mereka berbeda. Hasilnya menyatakan bahwa setelah aborsi mereka merasa takut, marah, malu, nyaman, percaya diri, bingung, kecewa, sedih, bersalah, terjebak, bodoh hingga tidak bisa merasakan apa-apa (numb).

Tidak sedikit yang paham bahwa sebenarnya aborsi memiliki resiko berbahaya dari segi medis, terutama jika aborsi yang dilakukan adalah aborsi tidak aman yang banyak dilakukan oleh dukun beranak, tukang pijat, jamu-jamuan atau obat-obatan tanpa didampingi tenaga medis profesional. Aborsi dapat mengakibatkan pendarahan hebat, lemah kandungan bahkan dapat memicu kanker rahim. Selain memiliki resiko medis, aborsi juga dapat mengakibatkan gangguan psikologis.

Di Indonesia ketika aborsi ilegal dan tidak aman masih menjadi pilihan bagi banyak perempuan pra-nikah, resiko terjadinya reaksi psikologis paska aborsi semakin meningkat. Menurut Alan Guttmacher Institute pada 2003, di Eropa di mana aborsi legal justru angka aborsi rendah. Namun di negara-negara berkembang seperti Indonesia di mana aborsi ilegal, angka aborsi justru tinggi. Rendahnya angka aborsi di Eropa karena adanya kesadaran masyarakat akan pendidikan seks dan angka pemakaian kontrasepsi yang tinggi. Pelegalan aborsi kemudian hanya mengurangi resiko terjadinya aborsi tidak aman. Selain itu budaya di Eropa memberikan ruang bagi seorang perempuan untuk menjadi orang tua tunggal (single mother). Hal ini berbeda dengan Indonesia di mana pendidikan seks masih dianggap tabu dan kesadaran pemakaian kontrasepsi yang rendah. Kedua faktor inilah yang kemudian memicu terjadinya Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Pendidikan seks dan kampanye pemakaian kondom dianggap sebagai pelegalan seks. Remaja diberi pendidikan moral tanpa diberi pemahaman yang benar akan tubuh mereka, tanpa dibekali mentalitas memperjuangkan hak-hak mereka, termasuk hak reproduksi.

Inna Hudaya menambahkan, terlepas dari perdebatan pro-life dan pro-choice, dalam pengamatannya sebagai konselor, ada beberapa hal yang menjadi penyebab seorang post-abortus mengalami Post-Abortion Syndrome. Di antaranya adalah:

Aborsi tidak aman yang dilakukan oleh dukun beranak, tukang pijat atau obat-obatan tertentu dapat mengakibatkan rasa sakit luar biasa. Rasa sakit inilah yang kemudian mengakibatkan trauma.

Infeksi paska aborsi.
Infeksi paska aborsi dapat bertahan lama, apalagi tidak semua perempuan post-abortus memiliki cukup keberanian untuk memeriksakan diri ke dokter. Rasa sakit yang terus menerus inilah yang kemudian mengakibatkan trauma.

Aborsi karena paksaan.
Kami lebih memilih istilah unplanned pregnancy daripada unwanted pregnancy. Kenapa? Karena beberapa kehamilan yang tidak direncanakan bias berubah menjadi kehamilan yang diinginkan. Banyak perempuan yang kemudian ingin meneruskan kehamilannya namun dipaksa harus melakukan aborsi oleh pasangan atau keluarganya. Hal ini pulalah yang mengakibatkan trauma.

Menentang sistem keyakinan.
Penyebab utama terjadinya Post-Abortion Syndrome adalah rasa bersalah. Rasa bersalah ini muncul karena si perempuan pada dasarnya meyakini bahwa aborsi adalah sesuatu yang salah dalam sistem keyakinannya. Namun karena kondisi tertentu ia harus tetap memilih melakukan aborsi.

Tidak siap dan tidak mau menjadi ibu
”Kestabilan” merupakan tujuan perempuan untuk memilih menjadi seorang ibu, namun peran sosial dan peran individual sebagai ibu kerap kali membuat seorang perempuan kelekahan fisik dan mentalnya, apalagi jika ia tidak didukung oleh keluarga, masyarakat apalagi oleh pasangannya?

Maria Ulfah menambahkan, untuk kasus kehamilan yang tidak dikehendaki karena bencana perkosaan, dilihat dari sisi apa pun tentu sangat membebani perempuan. Untuk kasus seperti ini, mesti dicarikan solusi yang bijak. Kalau si perempuan tidak mampu menanggung itu, baik secara medis maupun psikis, maka kalau ia tidak menginginkan kehamilan terjadi pada rahimnya, yaitu tubuhnya, maka cukup menjadi alasan untuk digugurkan. Namun hal inilah yang terus menjadi sumber perdebatan antara kelompok yang setuju dengan aborsi dan yang menentang aborsi.

Di Indonesia, aborsi adalah perbuatan kriminal dan perempuan-perempuan yang ketahuan telah melakukannya diganjar hukuman yang keras. Orang-orang dengan prinsip pro-kehidupan (pro-menganggap aborsi sebagai pembunuhan, perbuatan yang keji dan pantas dihukum. Sebaliknya, para pendukung pro-pilihan (pro-choice), aborsi tidak mengindahkan kehidupan embrio dalam kandungan sang ibu. Oleh karena kepercayaan ini telah ditanamkan pada masyarakat, banyak perempuan yang melakukan aborsi merasa bersalah seumur hidup karena cap “pembunuh” tertanam dalam diri mereka.

Selain itu juga hukum di Indonesia belum memberikan ruang bagi tindakan aborsi yang aman. Menurut Maria Ulfah, UU menutup sama sekali praktik aborsi dengan alasan apapun. Dalam UU Kesehatan juga terlihat sekali bahwa klausul tentang aborsi sangat bias jender. Di situ diterangkan, dokter bisa mengambil tindakan tertentu untuk menyelamatkan ibu dan janinnya. Padahal klausul ini menyangkut dua hal yang tidak mungkin dilakukan dalam konteks aborsi, dengan alasan menyelamatkan nyawa kedua-duanya karena dalam aborsi ada yang dikorbankan. Untuk itu perlu ada solusi berupa payung hukum untuk melindungi praktik ini dengan menyediakan dokter yang memiliki keahlian, terjamin keamanannya, sesuai prosedur standar kesehatan.

Ketika yang menjadi obyek pembahasan adalah prilaku, maka selanjutnya yang menjadi penilaian adalah etika dan moral seseorang yang menjadi refleksi atas tindakannya tersebut. Perempuan sebagai pelaku aborsi dapat disebut sebagai agen moral, namun seperti yang dikatakan oleh Simone de Beauvoir bahwa perempuan selalu ditolak untuk menjadi agen moral yang otonom, perempuan tidak pernah dibiarkan untuk memilih kehidupan yang baik untuk dirinya sendiri.

Padahal sebagai pelaku moral, setiap perempuan mempunyai kemampuan yang dapat digunakannya untuk bertindak secara moral sehingga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab, dan bisa dituntut untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Kemampuan itu berupa akal budi, kebebasan dan kemauan. Dengan kemampuan ini, pelaku moral dapat membuat pertimbangan moral dapat membuat pertimbangan moral sebelum bertindak, agar terhindar dari tindakan yang salah secara moral. Pelaku moral juga dapat memahami mana yang baik dan buruk secara moral.

Dari sudut pandang moral, aborsi memiliki penilaian tersendiri. Menurut Plato dalam Republic (461), ia menganggap bahwa janin itu belum cukup untuk dianggap manusia, tapi baru dapat dianggap manusia jika sudah terlahir. Dalam kondisi seperti ini keberadaannya dapat diterima dan sah secara hukum. Sedangkan Aristoteles menyarankan bahwa semestinya aborsi dilakukan sebelum sang janin dianggap hidup dan mampu merasa. Artinya pada gerakan pertama sang janin.

Kata “moral” memiliki arti etimologis yang sama dengan etika, dan dapat diartikan sama dengan pengertian etika, yakni nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya. Ketika membicarakan etika, maka kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut cara bertindak yang benar dan salah, hakekat kewajiban moral dan apa yang disebut kebaikan hidup. Pertanyaan mendasar dari Aristoteles dalam etika adalah „kehidupan baik yang begaimanakah yang harus saya jalani?“

Aborsi merupakan bagian dari etika terapan. Aborsi sebagai masalah dibicarakan dan dipelajari dalam etika terapan. Etika terapan membahas masalah-masalah etis yang praktis dan aktual serta mempelajari masalah yang berimplikasi moral dan memiliki pengaruh timbal balik dengan etika teoritis. Perdebatan tentang masalah-masalah konkrit akhirnya akan menjelaskan dan mempertajam prinsip-prinsip moral yang umum. Etika terapan sangat membutuhkan bantuan dari teori etika. Etika terapan menggunakan prinsip-prinsip dan teori moral yang diharapkan sudah mempunyai dasar yang kokoh.

Adalah suatu kenyataan bahwa kita hidup dalam zaman yang semakin pluralistik, tidak terkecuali dalam hal moralitas. Setiap hari kita bertemu dengan orang-orang dari suku, daerah lapisan sosial dan agama yang berbeda. Dalam pertemuan langsung dan tidak langsung dengan berbagai lapisan dan kelompok masyarakat kita menyaksikan atau berhadapan dengan berbagai pandangan dan sikap yang, selain memiliki banyak kesamaan, memiliki juga banyak perbedaan bahkan pertentangan. Masing-masing pandangan mengklaim diri sebagai pandangan yang paling benar dan sahih. Kita mengalaminya sepertinya kesatuan tatanan normatif sudah tidak ada lagi. Berhadapan dengan situasi semacam ini, kita akhirnya bertanya, tapi yang kita tanyakan bukan hanya apa yang merupakan kewajiban kita dan apa yang tidak, melainkan manakah norma-norma untuk menentukan apa yang harus dianggap sebagai kewajiban.

Makin lama cara berpikir makin berubah. Manusia bukan batu yang mati dan “fanatik”. Sejak dulu kala telah banyak cara berpikir, seperti rasionalisme, individualisme, nasionalisme, sekularisme, materialisme, konsumerisme, pluralisme religius, serta cara berpikir dan pendidikan modern yang telah banyak mengubah lingkungan budaya, sosial dan rohani masyarakat.

Masih banyak masyarakat yang terjebak dalam kebudayaan rasa malu, yang menurut Kees Berten adalah di mana pengertian-pengertian seperti “hormat”, “reputasi”, “nama baik”, “gengsi” sangat ditekankan. Bila orang melakukan kejahatan, hal ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk saja, tapi harus disembunyikan dari orang lain. Malapetaka terjadi bila suatu kesalahan diketahui orang lain, sehingga pelakunya kehilangan muka. Bukan perbuatan jahat itu sendiri yang dianggap penting, melainkan yang tidak kalah penting adalah perbuatan jahat itu tidak akan diketahui untuk menghindari rasa malu. Sangsi dalam shame culture berasal dari luar, yaitu apa yang dikatakan dan dipikirkan orang lain.

Ketika sebuah isu tidak dibicarakan, ketika kebanyakan orang tutup mulut atau tidak mau mendengar, bukan berarti isu tersebut tidak penting. Kenyataannya, ketika sesuatu dianggap tabu untuk dibicarakan justru hal tersebut menjadi sebuah permasalahan besar. Tidak adanya ruang untuk membicarakan seks yang dianggap tabu justru menjadi penyebab kenapa angka aborsi semakin meningkat setiap tahunnya. Masyarakat tidak mendapatkan akses informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi yang seharusnya menjadi hak mereka. Informasi menjadi kebutuhan dasar setiap orang, hak untuk mendapatkan informasi yang benar merupakan hal yang penting, tidak adanya ruang publik untuk membicarakan hal ini secara terbuka menyebabkan banyak orang akhirnya mendapatkan informasi yang salah. Hal ini pula yang menyebabkan banyak perempuan pada akhirnya melakukan aborsi tidak aman yang beresiko terhadap kesehatan fisik dan mental. Salah satu yang menjadi dorongan para perempuan untuk melakukan aborsi adalah karena budaya masyarakat di Indonesia tidak memberi ruang kepada perempuan untuk menjadi single mother dan pemberian label “anak haram” menjadi aib bagi keluarga dan momok yang menakutkan bagi para perempuan yang ingin mempertahankan janinnya. Hukum juga tidak berpihak pada calon anak yang masih dalam kandungan. Perempuan sebagai pelaku aborsi masih tersubordinasi dalam hukum Indonesia.

Perempuan selalu menjadi korban, tersubordinasi dalam hukum, budaya bahkan dalam hak-hak reproduksinya sendiri. Rahim, di mana janin tumbuh berada di bawah kendali perempuan sebagai pemilik alat reproduksi. Itu sebabnya aborsi selalu dikaitkan sebagai masalah perempuan, kesalahan perempuan. Lelaki seakan menjadi bagian yang terpisahkan dalam permasalahan ini. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) terjadi karena adanya hubungan seksual antara lelaki dan perempuan. Dalam hal ini lelaki turut berperan serta mengakibatkan terjadinya KTD yang berbuntut pada aborsi. Lelaki dan perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam hal aborsi.

Zumrotin K. Susilo dari Forum Kesehatan Perempuan menyatakan bahwa KTD bisa disebabkan kurangnya akses pada alat kontrasepsi atau kegagalan kontrasepsi, kemampuan ekonomi, inses, atau perkosaan. Selain itu juga karena diabaikannya hak reproduksi perempuan.

Membicarakan hak reproduksi, Deklarasi Beijing di Cina menjadi dokumen penting hasil Konferensi Dunia ke-4 Tentang Perempuan. Dokumen ini secara jelas mendefinisikan kesehatan reproduksi sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara lengkap, bukan hanya pencegahan penyakit atau kelemahan, yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan proses-prosesnya. Definisi semacam ini, sesungguhnya juga tidak berbeda jauh dengan pemahaman kesehatan yang diintroduksikan oleh Pasal 1 (1) dalam UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, walaupun dalam UU Kesehatan, lebih bersifat umum, dan tidak akan ditemukan definisi secara spesifik tentang kesehatan reproduksi. Faktor utama yang menyebabkan tidak terpenuhinya hak reproduksi remaja adalah karena tingkat pengetahuan yang kurang tentang seksualitas, terbatasnya informasi tentang kesehatan reproduksi dan ketidakterjangkauan remaja terhadap akses pelayanan kesehatan reproduksi, di samping pelayanan yang tidak memadai, serta sikap negatif terhadap anak perempuan dan tentu saja tindakan diskriminatif terhadap mereka. Satu kenyataan yang tak terbantahkan, kalangan remaja sering mendapatkan informasi tentang seksualitas dan reproduksi justru berasal dari teman-teman mereka, informasi parsial dalam media massa, maupun dalam buku-buku, yang kadang-kadang informasi itu tidak bisa dipastikan kebenarannya. Padahal, bagi remaja, hak mendapatkan informasi dan akses terhadap pelayanan merupakan hak kesehatan reproduksi yang utama. Sebab kebutuhan-kebutuhan akan informasi mengenai fungsi, sistem dan proses-proses reproduksi, sangat berkait erat dengan diri mereka sendiri, dan akan memiliki dampak sosial yang cukup berarti dalam bersosialisasi di kalangan sebaya mereka ataupun masyarakat pada umumnya. Pengabaian terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja, sesungguhnya merupakan bentuk pelangaran hak-hak reproduksi remaja yang nyata.

Sudah saatnya pemerintah melakukan perubahan melalui UU kesehatan mengenai aborsi. Pengakuan bangsa sebagai negara yang memegang adat dan budaya timur, dengan moral yang dijunjung tinggi, ternyata tak dapat menyelesaikan permasalahan aborsi. Moral dan agama tak dapat berjalan sendiri. Usaha mengurangi angka aborsi dengan mendengung-dengungkan moral tanpa bekal pengetahuan dan mentalitas sama saja mengajarkan remaja kita untuk bersikap hipokrit dan menyangkal hasrat seksual yang ada dalam diri setiap orang.

Sudah saatnya kita lebih terbuka terhadap berbagai macam pandangan. Bila kita menghargai bermacam pandangan, bukankah perempuan juga seharusnya diberi hak untuk memilih? Hak untuk melaksanakan atau tidak pengguguran kandungannya? Dan hak untuk mendapat hidup layak, apa pun pilihan sang perempuan?

Saya mengamini pendapat Inna Hudaya saat ia berkata bahwa sudah saatnya juga kita tidak melihat lagi konsep pro-choice dan pro-life sebagai sebuah pembatas. Ada ruang gerak yang bebas di antara keduanya. Sebab, soal aborsi adalah persoalan yang sangat kompleks, tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang agama, hukum, atau medis saja. Aborsi harus dilihat secara komprehensif, karena pokok persoalan ini bukan berdiri sendiri. Ada berbagai faktor yang dapat kita lihat, termasuk agama, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Selama ini, ketika masyarakat dan pemerintah bicara tentang aborsi, yang menjadi sasaran dan korban selalu kaum perempuan. Padahal penyebab orang melakukan aborsi beragam, termasuk partisipasi laki-laki yang selama ini tidak dilihat sebagai bagian dari pihak yang ikut berproses dalam kehamilan yang tidak dikehendaki.

Permasalahan aborsi lebih sering dilihat oleh masyarakat sebatas masalah etika-moral dan kriminalitas, sehingga pelakunya, perempuan, selalu disudutkan dalam koridor moral dan kejahatan kemanusiaan. Dalam keputusan aborsi, perempuan harus diberi hak untuk menentukan suara hati dan mengajukan argumentasi dengan klaim yang logis dan universal tanpa paksaan dari siapa pun. Seperti dijelaskan oleh Peter Adam Angeles, bahwa suara hati adalah tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan seseorang, dan atau tentang apa yang secara moral tidak baik, salah, jelek dan dilarang. Suara hati adalah bagian dari kodrat manusia yang membimbing dirinya menuju integrasi moral dari diri. Juga mencakup kemampuan interpretasi dimana pikiran memiliki berbagai kemampuan yang merupakan sebab bagi tindakan rasional. Kemampuan berkehendak untuk memilih, melakukan, memutuskan. Hati nurani merupakan sumber tingkah laku etis, memutuskan apa yang secara moral adalah terbaik untuk dilakukan dan mendorong kewajiban.

Menurut Aristoteles, setiap tindakan mempunyai tujuan. Ada dua tujuan, tujuan yang dicari demi tujuan selanjutnya dan tujuan yang dicari demi tujuan itu sendiri. Apa yang dicari demi dirinya sendiri hanyalah satu: kebahagiaan. Kaidah dasarnya adalah bertindaklah sedemikian rupa sehingga manusia mencapai kebahagiaan.

Kalau pembunuhan manusia lain yang jelas-jelas sudah bernyawa atas nama “jihad” menjadi halal, mengapa aborsi dengan segala pertimbangan dan pendidikan resikonya menjadi hal yang hitam putih? Maka soal aborsi, mengutip Gadis Arivia, tidakkah sebaiknya dikembalikan kepada keputusan perempuan?

sumber: askinna.com

7 HAL YANG LEBIH BERESIKO DIBANDING DENGAN ABORSI MEDIS

Seperti layaknya pengobatan atau prosedur medis lainnya, kita seringkali menemui informasi yang kurang tepat mengenai aborsi – jadi, bisa aja kamu tidak tahu bahwa aborsi medis adalah salah satu prosedur medis paling aman yang ada saat ini. Faktanya, lebih dari 99% aborsi pada kehamilan awal berhasil tanpa adanya komplikasi.

Sebagai penjelasan seberapa aman aborsi medis, berikut ini ada beberapa daftar hal-hal yang umum dalam kehidupan sehari-hari kita yang bahkan lebih berbahaya dari aborsi medis – dimana sebagian besar diantaranya pernah kamu alami atau mungkin akan kamu alami suatu hari.

  1. Operasi Amandel
    Tahukah kamu bahwa operasi amandel adalah salah satu prosedur operasi paling umum yang diterapkan di US? Seringkali juga dilakukan pada anak-anak. Hal yang penting diketahui adalah, operasi amandel memiliki resiko 1,200% lebih tinggi dibanding aborsi. Baca lebih lengkap disini!
  2. Suntik Penisilin
    Penisilin telah menjadi pilihan antibiotik yang digunakan di seluruh dunia oleh fasilitas kesehatan untuk mengobati infeksi, seperti radang tenggorokan dan sakit telinga selama kurun waktu 90 tahun. Penisilin juga disebut sebagai salah satu penemuan terpenting di abad ke-20 dan telah menyelamatkan jutaan orang. Meskipun begitu, aborsi medis bahkan tidak seberbahaya disuntik dengan penisilin. Baca lebih lengkap disini!
  3. Flu
    Flu? Aha! Cuaca buruk seringkali terjadi, kan? Flu tidak hanya membuat segala sesuatu menjadi tidak menyenangkan, tetapi flu dapat membawa beberapa akibat yang menyeramkan. Faktanya, flu memiliki ribuan kali resiko lebih tinggi dibanding aborsi! Baca lebih lengkap disini!
  4. Penggunaan pereda nyeri atau penghilang rasa sakit yang berlebihan (Aspirin, Advil, Tylenol, dll)
    Pereda nyeri atau penghilang rasa sakit umumnya digunakan untuk mengobati rasa sakit seperti sakit kepala atau nyeri menstruasi. Tetapi, tetap saja mengkonsumsi pereda nyeri berlebih memiliki resiko lebih besar dari aborsi. Baca lebih lengkap disini!
  5. Cabut gigi
    Tahukah kamu bahwa mencabut gigi memiliki resiko tiga kali lebih besar dibanding aborsi medis? Baca lebih lengkap disini!
  6. Melahirkan
    Mungkin akan sulit dipercaya, tetapi bahkan di masa sekarang di Amerika, kehamilan dan kelahiran memiliki resiko yang sangat serius bagi kesehatan. Meskipun banyak juga orang yang menjalani masa kehamilan dan melahirkan tanpa adanya masalah, tetapi resiko komplikasi karena kehamilan dan melahirkan adalah 28 kali lebih tinggi dibanding aborsi medis. Baca lebih lengkap disini!

Seringkali kita mendengar bahwa aborsi medis sangat menyeramkan dan membahayakan dari yang sebenarnya. Faktanya, nyaris semua yang kita lakukan sehari-hari pun memiliki resiko yang lebih besar, tidak peduli seberapa sepele hal itu. Jika kamu berpikir untuk memilih aborsi medis, pahamilah bahwa aborsi medis merupakan salah satu prosedur medis paling aman yang tersedia saat ini. Kamu akan baik-baik saja. Baca lebih lengkap disini!

Source : https://carafem.org/10-things-riskier-than-abortion/

Aborsiku Gagal. Apakah Aman Untuk Ulang Aborsi?

Ketika perempuan memilih menggunakan misoprostol untuk mengakhiri kehamilan mereka kadang lupa bahwa tingkat keberhasilan misoprostol adalah 86%. Cukup tinggi, namun tetap ada risiko gagal sebesar 14%. Kegagalan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Pastikan usia kehamilanmu sudah mencapai minimal 6 minggu agar kemungkinan aborsimu gagal tidak melebihi angka kemungkinan gagal itu.

Nah Ladies, kalau ternyata kamu sudah keburu menggunakan misoprostol dan akhirnya gagal sebenarnya kamu bisa mengulang penggunaan misoprostol.

Lho memangnya aman menggunakan misoprostol berkali-kali? Jelas aman karena misoprostol tadinya digunakan sebagai obat maag. Jika kamu menggunakan dosis dan cara penggunaan yang tepat maka kamu bisa mengulangi aborsimu selama sudah diberi jeda waktu 3-10 hari.

Ada nggak batasan maksimal berapa kali mengulang tindakan? Tidak ada karena obatnya sangat aman. Kamu bisa mengulang tindakan berkali-kali jika kamu masih mau menghentikan kehamilan. Selain itu sebetulnya tingkat keberhasilan penggunaan misoprostol cenderung meningkat ketika kamu mengulang tindakan.

Apa yang perlu kulakukan untuk mengulang tindakan? Sebelum mengulang aborsi pastikan kamu sudah memeriksakan kondisi kehamilanmu dengan USG. Ingat, ada kondisi-kondisi khusus di mana kehamilan sangat tidak dianjurkan untuk dihentikan dengan obat. Selain itu kamu jughttp://hotlinemisoprostol.com/2017/06/16/kenapa-obat-aborsi-harganya-mahal-sekali/a bisa kontak teman-teman konselor dulu supaya lebih yakin kalau proses lanjutan ini benar-benar aman.

Kalau aku mengulang tindakan apa aku masih bisa hamil lagi? Bisa dong! Karena obatnya aman dan bisa digunakan berkali-kali sepanjang kamu sudah memastikan kondisi kehamilanmu, menunggu 3-10 hari dan menggunakan dosis serta cara penggunaan yang tepat.

Apakah aku harus membayar lagi untuk mengulang tindakan? Tenang saja, beberapa penjual obat menyediakan garansi jadi kamu juga tidak perlu membayar lagi untuk mendapatkan obat ketika aborsi pertama gagal.

Nah, sekarang sudah lebih siap untuk tindakan ulang kan? Semoga berhasil Ladies. Tenang saja, teman-teman konselor pasti akan membantu kalau kamu ragu atau punya pertanyaan.

 

Jangan Sampai Ditipu! Kenali Penjual Obat yang Palsu dan Asli

Kehamilan tidak direncanakan sebetulnya sangat umum terjadi. Sayangnya, informasi tentang pilihan apa saja yang tersedia bagi perempuan dalam situasi ini sangat terbatas. Tidak aneh kalau pihak-pihak yang berniat memanfaatkan situasi ini pun sangat banyak jumlahnya dan banyak perempuan tertipu oleh penyedia obat yang tidak trusted atau terpercaya. Apalagi, saat ini layanan vakum yang aman untuk menghentikan kehamilan hampir tidak ada di Indonesia. Tenaga medis kita lebih memilih kuret yang berisiko melukai dinding rahim dengan biaya yang sangat mahal.

Karena itu, kali ini kita akan diskusikan sama-sama beberapa ciri penjual yang meragukan. Memang bisa jadi ciri-ciri ini adalah pertanda mereka kurang pengetahuan tentang obat aborsi, tapi bisa jadi juga mereka memang berniat buruk pada perempuan yang membutuhkan. Apa saja sih ciri-ciri itu?

Klaim produk 100% berhasil

Ladies, tingkat keberhasilan misoprostol memang tinggi tapi hanya 86%. Tetap ada kemungkinan gagal sebesar 14%. Jika penjual memberikan klaim “lebih dari 99% berhasil” atau bahkan “100% berhasil” ini bisa jadi mereka kurang paham tentang tingkat keberhasilan cytotec atau misoprostol. Tapi bisa jadi juga mereka memberikan klaim seperti ini agar mereka…

Tidak menyediakan garansi

Ketika penjual obat tahu kalau produknya tidak 100% berhasil biasanya mereka akan menyediakan garansi. Pastikan kamu bisa mendapat garansi dengan harga penuh sehingga tidak perlu membayar sampai 2x atau bahkan lebih ketika kamu gagal aborsi di usaha pertama. Jika mereka tidak menyediakan garansi jangan ragu untuk mencari penjual obat aborsi lain.

Memberikan obat kurang dari 4 per paketnya

Ladies, protokol terbaru Badan Kesehatan Dunia membutuhkan 12 butir obat untuk usia kehamilan 6-13 minggu. Nah kalau penjual obat menyediakan kurang dari itu untuk tiap paketnya, bisa jadi mereka belum tahu tentang protokol yang baru ini dan masih mengacu pada protokol lama. Protokol lama ini memang hanya membutuhkan 4 butir, walaupun begitu jumlah 4 butir ini sudah terbukti sangat rendah efektivitasnya. Jika penjual hanya menyediakan obat kurang dari 4 butir coba cari penyedia obat lainnya. Prinsip yang sama juga berlaku jika kamu diminta membayar hingga Rp. 500.000 atau bahkan lebih tapi hanya mendapat 4 butir saja.

Termasuk dalam blacklist ini

Kalau penjual obat yang kamu hubungi termasuk dalam daftar Blacklist di situs AskInna maka sudah dipastikan kalau mereka berniat tidak baik. Cari saja penjual obat yang sudah terbukti trusted dan recommended ya.

Masih ragu mana penjual yang masuk daftar hitam mana yang terpercaya? Yuk langsung aja tanya-tanya ke temen-temen konselor.

Pasanganku Trauma Setelah Aborsi, Wajarkah?

Kehamilan sudah terhenti dengan proses yang aman, fisik pun mulai kembali pulih dan kamu mulai beraktivitas kembali. Tapi kamu mulai merasa ada yang aneh dengan relasimu. Pasanganmu mulai menjauhimu, dan ketika kamu ingin berbagi perasaan tentang proses aborsi kemarin ia malah menghindar. Atau dalam kasus lain, pasangan terus-terusan membicarakan soal aborsi yang telah dijalani walaupun kamu ingin dan siap untuk segera move on dari proses itu. Kamu pun mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang terjadi?

Nah Ladies, sebagian besar dari kalian terutama yang mengikuti konseling persiapan aborsi aman mungkin sudah siap dengan kemungkinan mengalami trauma pasca aborsi. Dari konseling itu juga perempuan kemudian mempersiapkan diri lebih baik untuk ‘berdamai’ dengan proses yang mereka jalani. Caranya macam-macam, bisa dengan sering membicarakannya bersama orang yang dipercaya, menangis, bahkan berdoa. Tapi ternyata, trauma pasca aborsi juga bisa dialami laki-laki lho. Sama seperti postpartum depression atau depresi pasca melahirkan yang juga dialami laki-laki. Ini terutama terjadi ketika pasangan diam-diam ingin mempertahankan kehamilan namun mengalah demi mendukung perempuan, apalagi di usia kehamilan lanjut.

Untuk menghindari pasanganmu mengalami trauma pasca aborsi, pastikan kamu dan pasangan berdiskusi dengan jujur tentang apa yang kalian inginkan. Sebelum menjalani proses aborsi pastikan pasangan juga sudah mengikuti konseling supaya pasangan juga bisa memetakan situasinya sendiri. Jika pasangan memang berat untuk mendampingi dalam proses aborsi, baik karena keyakinan, keinginannya maupun karena memiliki fobia darah kamu mungkin bisa mencoba mencari pendamping lain.

Bagaimana jika trauma terlanjur terjadi? Berikan dukungan semaksimal mungkin pada pasangan. Tentu saja ini bukan hal yang mudah dilakukan karena pasca aborsi kamu juga akan mengalami perubahan hormonal sehingga kadang merasa sedih, marah hingga merasa bersalah. Selain itu kondisi fisik juga biasanya belum optimal. Nah, kalau memberi dukungan secara langsung masih berat dalam kondisimu kamu bisa mencoba memberi dukungan dalam bentuk lain. Misal, jika pasangan ingin terus membicarakannya kamu bisa mendorong dia memulai sebuah blog seperti AskInna. Kamu juga bisa mengajaknya beribadah dan berdoa bersama jika menurut kalian hal itu bisa membantu.

Bagaimana dengan relasi yang berubah pasca aborsi? Walaupun kadang hal ini terasa sangat berat namun ini juga salah satu proses yang sangat wajar terjadi. Jika kamu atau pasangan membutuhkan bantuan untuk menghadapinya kamu bisa mencoba ngobrol dengan teman-teman konselor, orang yang bisa dipercaya atau bahkan psikolog.

KTD Berulang? Nggak Masalah!

Ketika tes kehamilan menunjukkan 2 strip, kadang perempuan justru merasa panik dan waswas karena mereka belum mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran seorang anak. Apalagi, ketika perempuan mengalami KTD atau kehamilan tidak direncanakan yang berulang. Jika ini terjadi padamu, kamu perlu menenangkan diri. Ingat, kehamilan tidak direncanakan adalah situasi yang sangat wajar dan bisa menimpa semua perempuan yang subur. Ya, bahkan ketika itu bukan kehamilan tidak direncanakan yang pertama.

Tapi aku dan pasangan sudah disiplin pakai kontrasepsi, kenapa aku masih hamil lagi? Eit, jangan sedih apalagi menyalahkan diri sendiri dulu Ladies. Yang perlu kamu ingat adalah, sama seperti aborsi medis semua kontrasepsi tetap punya kemungkinan gagal. Hanya prosentasenya yang berbeda-beda. Selain itu, tidak semua orang cocok dengan kontrasepsi.

Apa yang bisa dilakukan dalam situasi ini? Tentu saja kamu tetap punya 3 pilihan. Kamu bisa meneruskan kehamilan dan membesarkan anak dengan atau bahkan tanpa pasangan. Atau kamu bisa melahirkan di rumah aman dan mencari orangtua asuh untuk anakmu. Atau kamu bisa menghentikan kehamilan.

Bagaimana kalau aku tidak mau menghentikan kehamilan lagi? Tidak masalah, sepanjang kamu sudah memetakan pilihan-pilihan yang ada dan benar-benar siap dalam memastikan opsi-opsi yang ada. Apakah aman jika perempuan ingin menghentikan kehamilan lagi? Tentu saja. Kamu bisa memilih antara vakum atau aborsi medis yang sudah terbukti sangat aman dan bisa dilakukan berkali-kali sepanjang dengan protokol yang tepat dan dengan dosis yang sesuai untuk usia kehamilanmu kali ini. Nah kalau kamu masih ragu, apakah kamu membutuhkan dosis baru atau bisa menggunakan dosis yang sama seperti sebelumnya kamu bisa coba ngobrol langsung dengan teman-teman konselor.

Tapi aku masih belum yakin dengan apa yang perlu kulakukan di kehamilan kali ini. Nah, dalam situasi ini pastikan kamu punya teman bicara yang bisa menawarkan pandangan yang objektif dan tidak menghakimi. Seandainya kamu dan pasangan sama-sama bingung untuk memilih 1 solusi kamu juga tetap bisa menghubungi teman-teman konselor lagi dan memetakan situasi bersama.

Meneruskan Kehamilan Setelah Gagal Aborsi? Bisa!

Hi Ladies, selamat siang! Pastinya sehat semua kan? Nah kali ini kita akan membahas kegagalan aborsi medis dan efeknya pada kehamilan. Salah satu yang sering ditanyakan adalah bisakah meneruskan kehamilan setelah gagal aborsi dengan misoprostol.

Adakah risikonya jika meneruskan kehamilan setelah gagal aborsi medis? Ya, sebetulnya risiko cacad janin setelah kegagalan penggunaan misoprostol dan mifepristone tetap ada, namun risikonya sangat kecil. Bahkan risiko cacad pada tulang tengkorak dan anggota gerak bayi hanya sekitar 1:1000. Sebagai perbandingan, statistik ini jauh lebih kecil daripada risiko cacad janin ketika perempuan terinfeksi virus zika yang bisa mencapai 60:1000. Lho kenapa bisa begitu?

Wajar saja, karena ini terkait prinsip kerja misoprostol yang terutama mempengaruhi dinding rahim, bukan kehamilan secara langsung. Dalam aborsi medis, misoprostol meluruhkan kantong kehamilan bersama penebalan dinding rahim, sama saja seperti menstruasi. Karena itu, ketika aborsi medis gagal dan kantong kehamilang beserta embrio atau bahkan janin masih berada di dalam rahim kamu tetap bisa meneruskan kehamilan.

Bagaimana aku tahu kalau meneruskan kehamilan setelah gagal aborsi tetap aman?

Mengatahui kondisi kehamilanmu setelah kegagalan aborsi medis hanya bisa dilakukan melalui USG. Biasanya setelah kegagalan aborsi medis dokter akan menyampaikan diagnosa tentang kondisi kehamilanmu. Ingat, risiko cacad janin memang ada walaupun sangat kecil namun biasanya kehamilan tetap berlanjut dengan normal walaupun kondisinya lemah.

Nah setelah USG, kamu bisa menentukan langkah selanjutnya. Meneruskan kehamilan, menyerahkan pengasuhan pada orang tua asuh melalui jalur adopsi atau bahkan mengulang prosedur aborsi medis sepanjang sesuai protokol dan masih dalam usia kehamilan yang dianjurkan. Yang penting, keputusan untuk meneruskan kehamilan atau mengulang prosedur aborsi medis sepenuhnya keputusanmu. Pastikan kamu sudah memetakan seluruh sumber daya dan situasimu dengan objektif dan tenang. Jadi nantinya ketika kamu meneruskan kehamilan dan melahirkan pun kamu bisa membesarkan anakmu dengan yakin dan mantap serta memiliki semua sumber daya yang dibutuhkan.

Gimana Ladies? Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuanmu sehingga bisa mengambil keputusan yang terbaik dalam situasimu 😀

 

Kelainan Pada Kehamilan dan Cara Menghentikannya

Di Indonesia aborsi memang dapat membuat perempuan dipenjara karena tuduhan kriminal, tapi tahukah kamu kalau dalam situasi khusus perempuan bisa mengakses aborsi aman dan legal? Yep, ketika terjadi kelainan pada kehamilan sebetulnya perempuan bisa mengakses aborsi aman. Kelainan pada kehamilan apa saja sih yang dimaksud? Ini dia jawabannya.

Molar Pregnancy atau Hamil Anggur

Kehamilan anggur terjadi karena kelainan pembelahan sel. Jangan tertukar dengan kehamilan kembar ya. Jika kehamilan kembar bisa dihentikan dengan misoprostol maka hamil anggur merupakan salah satu kelainan pada kehamilan yang membutuhkan penanganan khusus seperti dilatasi hingga kuretase. Kehamilan anggur terjadi akibat pembelahan sel yang tidak sempurna saat kehamilan. Karena itu, walaupun kemungkinannya kecil tapi bisa juga salah satu sel berkembang dengan sempurna sementara ‘kembarannya’ justru menjadi kehamilan anggur ini.

Kehamilan di Luar Rahim

Kehamilan di luar rahim merupakan salah satu kelainan pada kehamilan yang sangat berbahaya bagi perempuan. Kehamilan ini tidak bisa dihentikan dengan misoprostol karena seperti kita tahu, misoprostol hanya berfungsi meluruhkan dinding rahim. Nah kalau kehamilannya saja berada di luar rahim maka bisa dipastikan kalau sekalipun menggunakan misoprostol kantung kehamilan tetap akan menempel. Penempelan ini biasanya terjadi pada tuba falopii yang sebetulnya berukuran sangat kecil dan tidak akan sanggup menahan beban kehamilan.

Kelainan pada Kehamilan Tanpa Embrio

Nah, kelainan kali ini seringkali disebut dengan nama hamil kosong. Hamil kosong adalah situasi di mana walaupun ada kantung kehamilan namun tidak ada embrio. Ini bisa terjadi karena kehamilan memang lemah sehingga tanpa sadar embrio terlepas dengan sendirinya maupun kegagalan aborsi sehingga kantong kehamilan masih tersisa. Salah satu indikator yang paling jelas dari kehamilan kosong ini adalah usia kehamilan yang tidak pernah bertambah jika dilihat di USG. Untuk menghentikan kehamilan ini kamu bisa menggunakan misoprostol dengan dosis dan protokol yang disarankan sesuai usia kehamilan yang terdeteksi di USG. Jika kamu memilih menggunakan misoprostol untuk mengeluarkan kantung kehamilan pastikan kamu juga sudah paham semua informasi yang kamu butuhkan seputar aborsi medis dulu.

Nah, sampai di sini dulu Ladies. Sekarang semakin paham kan tentang kelainan pada kehamilan dan cara menghentikannya? ;D