Pasanganku Trauma Setelah Aborsi, Wajarkah?

Kehamilan sudah terhenti dengan proses yang aman, fisik pun mulai kembali pulih dan kamu mulai beraktivitas kembali. Tapi kamu mulai merasa ada yang aneh dengan relasimu. Pasanganmu mulai menjauhimu, dan ketika kamu ingin berbagi perasaan tentang proses aborsi kemarin ia malah menghindar. Atau dalam kasus lain, pasangan terus-terusan membicarakan soal aborsi yang telah dijalani walaupun kamu ingin dan siap untuk segera move on dari proses itu. Kamu pun mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang terjadi?

Nah Ladies, sebagian besar dari kalian terutama yang mengikuti konseling persiapan aborsi aman mungkin sudah siap dengan kemungkinan mengalami trauma pasca aborsi. Dari konseling itu juga perempuan kemudian mempersiapkan diri lebih baik untuk ‘berdamai’ dengan proses yang mereka jalani. Caranya macam-macam, bisa dengan sering membicarakannya bersama orang yang dipercaya, menangis, bahkan berdoa. Tapi ternyata, trauma pasca aborsi juga bisa dialami laki-laki lho. Sama seperti postpartum depression atau depresi pasca melahirkan yang juga dialami laki-laki. Ini terutama terjadi ketika pasangan diam-diam ingin mempertahankan kehamilan namun mengalah demi mendukung perempuan, apalagi di usia kehamilan lanjut.

Untuk menghindari pasanganmu mengalami trauma pasca aborsi, pastikan kamu dan pasangan berdiskusi dengan jujur tentang apa yang kalian inginkan. Sebelum menjalani proses aborsi pastikan pasangan juga sudah mengikuti konseling supaya pasangan juga bisa memetakan situasinya sendiri. Jika pasangan memang berat untuk mendampingi dalam proses aborsi, baik karena keyakinan, keinginannya maupun karena memiliki fobia darah kamu mungkin bisa mencoba mencari pendamping lain.

Bagaimana jika trauma terlanjur terjadi? Berikan dukungan semaksimal mungkin pada pasangan. Tentu saja ini bukan hal yang mudah dilakukan karena pasca aborsi kamu juga akan mengalami perubahan hormonal sehingga kadang merasa sedih, marah hingga merasa bersalah. Selain itu kondisi fisik juga biasanya belum optimal. Nah, kalau memberi dukungan secara langsung masih berat dalam kondisimu kamu bisa mencoba memberi dukungan dalam bentuk lain. Misal, jika pasangan ingin terus membicarakannya kamu bisa mendorong dia memulai sebuah blog seperti AskInna. Kamu juga bisa mengajaknya beribadah dan berdoa bersama jika menurut kalian hal itu bisa membantu.

Bagaimana dengan relasi yang berubah pasca aborsi? Walaupun kadang hal ini terasa sangat berat namun ini juga salah satu proses yang sangat wajar terjadi. Jika kamu atau pasangan membutuhkan bantuan untuk menghadapinya kamu bisa mencoba ngobrol dengan teman-teman konselor, orang yang bisa dipercaya atau bahkan psikolog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *