Aborsi Demi Kehidupan yang Lebih Baik

aborsi demi kehidupan dan masa depan perempuan dan keluarga
Belum siap? Cus hubungi mereka

Banyak orang mengaitkan aborsi atau tindakan menghentikan kehamilan dengan perampasan nyawa padahal ada perbedaan yang sangat tegas dari kedua konsep tersebut. Perempuan yang melakukan aborsi juga kerap dicap perempuan berdosa dan egois. Padahal setiap kali pilihan ini menjadi pilihan terakhir yang diambil dengan mempertimbangkan keluarga, pasangan, bahkan si calon anak itu sendiri. Karena itulah seringkali aborsi demi kehidupan yang lebih baik menjadi keputusan yang tak terelakkan. Betulkah aborsi dapat menjadikan kehidupan seseorang dan keluarganya lebih baik? Yuk kita buktikan sama-sama.

Aborsi untuk keluarga berencana dan lebih sejahtera

Ladies, pernah dengar istilah ‘gagal KB’ atau melihat seseorang dengan keluarga besar yang mengatakan kalau mereka ‘kebobolan’? Nah biasanya hal ini terjadi karena kegagalan kontrasepsi¬†bahkan kurangnya pengetahuan tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi atau HKSR. Sekarang bayangkan jika kebobolan ini terjadi berulangkali pada pasangan dengan penghasilan minim dan lama waktu kerja yang cukup panjang, buruh misalnya. Untuk menghidupi seorang anak saja kadang sudah cukup berat, bagaimana kalau jumlah anggota keluarga mereka terus bertambah?

Nah, dengan aborsi yang aman dan terjangkau maka keluarga-keluarga dengan latar belakang seperti ini bisa lebih leluasa merencanakan kapan ingin menambah anggota keluarga jika memang ingin. Selain itu mereka juga akan bisa fokus untuk meningkatkan kesejahteraan dari anggota-anggota keluarga yang sudah ada sehingga terhindar dari tambahan beban finansial.

Aborsi demi kehidupan dan masa depan perempuan

Ketika perempuan memilih untuk meneruskan kehamilan tidak direncanakan seringkali mereka terpaksa mengorbankan pendidikan, karier dan masa depan. Tapi ketika mereka punya pilihan untuk bisa menghentikan kehamilan dengan aman maka mereka tetap bisa mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Apakah itu keputusan yang egois? Tentu saja tidak! Nyatanya pendidikan yang lebih tinggi dan penghasilan yang lebih baik memungkinkan perempuan mempersiapkan keluarga dan anak-anaknya agar lebih sejahtera dan sehat. Selain itu ketika perempuan memperoleh penghasilan yang lebih baik maka perekonomian negara akan jauh lebih maju lho.

Aborsi aman menurunkan angka kematian ibu

Ladies, 11%-14% angka kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh aborsi tidak aman lho! Bahkan kebanyakan dari mereka bukan saja masih dalam usia produktif tapi bahkan masih sangat muda, yaitu 15 tahun. Nah akses aborsi aman tentunya akan bisa menurunkan angka ini sehingga perempuan, terutama remaja dan anak-anak tidak perlu membahayakan nyawa mereka untuk menghentikan kehamilan ūüėÄ

CP

Kepercayaan dalam Konseling KTD Penting Banget, lho!

biar aman konseling dulu yuk

Berbagi dengan orang asing jelas bukan sesuatu yang mudah, apalagi ketika masalahnya adalah sesuatu yang masih banyak dianggap tabu oleh banyak orang. Ya, seperti kehamilan tidak direncanakan (KTD) misalnya. Karena itu kadang perempuan maupun pendampingnya merasa skeptis terhadap konselor. Padahal kepercayaan dalam konseling KTD itu perlu banget lho. Kira-kira sejauh mana sih kepercayaan antara konselor, perempuan dan pendamping dapat mempengaruhi aborsi medis dan konselingnya?

Kepercayaan dalam konseling akan menentukan kecepatan konseling

Hmmm gimana ceritanya ini kak, bukannya konseling tinggal konseling saja? Ternyata tidak juga lho Ladies, karena ketika perempuan atau pasangan tidak percaya dengan konselor kadang mereka memutuskan untuk menghentikan konseling di tengah prosesnya. Setelah itu kadang mereka memutuskan untuk mencari bantuan dari tempat lain, sayangnya tidak semua tempat memberikan layanan aborsi yang terpercaya. Bukannya mendapatkan bantuan yang dibutuhkan, perempuan malah mendapatkan semakin banyak masalah dan tertipu oleh pihak-pihak bertanggung jawab.

Habis konselingnya ribet sih kak, masa diminta USG segala. Kadang konselor memang meminta perempuan melakukan USG dalam situasi khusus. Ketika siklus menstruasi perempuan tidak teratur misalnya, menghitung usia kehamilan hanya dari hari pertama menstruasi terakhir bisa menyebabkan kerancuan. Ini bisa berbahaya jika kamu memilih menghentikan kehamilan dengan obat karena beda usia kehamilan bisa jadi dosisnya juga akan berebda lho. Selain itu USG juga terutama penting ketika perempuan sudah memasuki trimester kedua untuk memastikan kalau kehamilannya memang aman untuk dihentikan dengan obat.

Bagaimana aku memastikan kalau konselornya terpercaya?

Kepercayaan memang bukan sesuatu yang bisa dipaksakan, karena itu kamu juga berhak merasa skeptis atau kurang percaya dengan konselor yang ingin membantumu. Biarpun begitu, kamu bisa memastikan apakah konselor/penyedia layanan itu terpercaya dengan mengoptimalkan penggunaan mesin pencari alias Mbah Google. Dari situ kamu bisa lihat rekam jejak organisasi atau penyedi layanan tersebut. Banyak-banyak baca dari media yang terpercaya, dari dalam dan luar negeri. Untuk informasi aborsi aman misalnya, kamu bisa langsung cek ke situs resmi WHO tentang cara penggunaan obat yang tepat. Dengan begitu, pastinya kamu juga merasa lebih tenang dan aman ketika berbagi dengan konselor sehingga memperkecil kemungkinan konseling terhambat karena salah paham. Semoga membantu dan selamat bersiap untuk beraktivitas minggu depan Ladies! ūüėÄ

Berdamai Pasca Aborsi dan Terhindar dari Trauma

Setelah aborsi selesai kadang perempuan masih merasakan dampak emosional dan psikologis pasca aborsi. Ketika itulah perempuan perlu berdamai pasca aborsi agar ia tidak terhanyut dalam kesedihan, marah dan perasaan bersalah dan bisa tetap berbahagia dalam menghadapi hari-harinya.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa kamu katakan pada dirimu sendiri pasca tindakan untuk mengingatkan dirimu bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja dan bisa terhindar dari trauma.

  • Kamu sepenuhnya berhak merasakan semua yang kamu rasakan saat ini

Ladies, proses menghentikan kehamilan bisa jadi proses yang sangat berat. Meskipun begitu kamu telah melaluinya, karena itu kamu berhak untuk mengeluarkan emosi yang telah kamu pendam sebelum dan selama tindakan. Ingatlah, it’s okay not to be okay!

  • Apa yang kamu rasakan ini sepenuhnya normal dan kamu bisa berdamai pasca aborsi

    Setelah berjuang untuk menetapkan solusi yang terbaik dalam kehamilan tidak direncanakan yang kamu alami dan menjalaninya, wajar sekali jika kamu butuh istirahat dan tempat bersandar. Selain itu, pasca aborsi hormonmu sedang kurang seimbang sehingga bisa jadi kamu merasakan marah, sedih, hingga perasaan bersalah. Jika memang keadaanmu disebabkan oleh hormon biasanya keadaan akan membaik dalam tiga minggu. Tapi jika kamu terus bersedih hingga 3 bulan atau bahkan lebih maka kamu butuh bantuan. Bisa dari orang terdekat, atau bahkan ke psikolog.

  • Kehamilan tidak direncanakan bisa terjadi pada siapa saja

    Mengalami kehamilan tidak direncanakan bukan berarti kamu bersalah atau kurang waspada. Ingat, kehamilan tidak direncanakan sangat wajar dan bisa terjadi pada siapapun selama ia adalah perempuan yang masih subur.

  • Semua pilihan dalam kehamilan tidak direncanakan adalah pilihan yang sulit

    Dalam kehamilan tidak direncanakan perempuan punya 3 pilihan untuk dipertimbangkan. Semua opsi tersebut punya konsekuensi tersendiri dan semuanya tidak mudah. Bahwa kamu sudah berani melangkah dan mengambil keputusan saja sudah menunjukkan bahwa kamu memiliki keberanian lebih walaupun kamu bisa saja tetap merasa takut saat menghadapinya.

  • Ingat lagi alasan kamu memilih menghentikan kehamilan

    Banyak sekali alasan perempuan melakukan aborsi dan semuanya bukan alasan yang egois. Bahwa kamu ingin meraih masa depan sebelum memiliki anak? Tidak masalah. Dengan begitu kamu mungkin akan memiliki masa depan yang baik dan pada akhirnya bisa mempersiapkan masa depan anakmu nanti. Tidak ingin memiliki anak? Perempuan yang tidak ingin memiliki anak juga bukan perempuan yang egois lho. Bisa jadi mereka justru menyadari keterbatasan mereka sehingga ingin menghindari memiliki anak ketimbang tidak bisa membesarkan anak dengan maksimal.

Nah, semoga tulisan ini membantumu menghadapi apapun perasaan yang kamu rasakan saat ini ya Ladies. Oya, tulisan ini boleh lho kamu bagikan dengan pasangan juga agar dia lebih menyadari dan memahami apa yang tengah kamu rasakan.

Ingin Aborsimu Tetap Aman? Konseling Dulu Yaaa…

Segala yang tidak direncanakan itu biasanya mengejutkan dan seringkali juga membuat panik, apalagi jika yang tidak direncanakan itu adalah kehamilan. Dalam keadaan panik dan bingung, bahkan kadang juga putus asa, perempuan atau pasangan maupun keluarga terdekat langsung saja berusaha menghentikan kehamilan. Padahal nih, memaksakan menghentikan kehamilan tanpa konseling itu bisa sangat berbahaya lho bagi perempuannya. Sebetulnya apa saja sih yang menyebabkan konseling penting bagi perempuan? Yuk kita cek sama-sama…

  1. Tertipu penyedia layanan aborsiDalam keadaan panik, perempuan bisa jadi sulit membedakan mana informasi yang terpercaya dan mana yang perlu dipertanyakan. Alhasil mereka pun lebih rentan menjadi korban penipuan layanan aborsi. Hmm, memang seperti apa saja sih kriteria penipuan layanan aborsi? Jika kamu memilih aborsi dengan obat memang agak susah untuk memastikan kecuali jika kamu sudah membayar tapi obat tidak dikirim. Layanan kuret pun seringkali begitu. Seringkali perempuan baru sadar mereka terjebak dalam layanan tidak terpercaya ketika di kliniknya perempuan diminta membayar lebih dari harga yang sudah disepakati di awal komunikasi. Lalu seperti apa sih penyedia layanan yang terpercaya? Baca lebih lengkap di sini untuk tahu siapa saja sih penyedia obat yang harus kamu jauhi atau yang bisa kamu percaya. Langsung telepon konselormu juga untuk tahu klinik mana sih yang aman, legal dan recommended untuk menghentikan kehamilan.
  2. Salah cara penggunaan atau dosis obat  Yang namanya penjual obat belum tentu semuanya tahu cara penggunaan obat yang benar lho. Selain itu bisa jadi cara penggunaan obat yang mereka tahu berbeda dengan cara penggunaan yang tepat untuk usia kehamilanmu. Jangan khawatir, konselor akan memastikan cara pakai obat dan dosis yang paling tepat untuk kamu jadi kamu juga bisa memastikan kalau aborsimu aman.
  3. Trauma Trauma pasca aborsi umumnya terjadi karena 2 hal. Pertama, ketika perempuan sebenarnya ingin menghindari opsi aborsi namun lingkungan terus menekan atau memanipulasi perempuan untuk menghentikan kehamilan. Dengan curhat langsung terlebih dulu ke konselor biasanya perempuan akan sadar bahwa ia masih punya pilihan lain dan mampu mengusahakan opsi-opsi lain itu. Penyebab lain adalah ketika perempuan membayangkan hasil konsepsi yang keluar sebagai gumpalan darah dan kantong kehamilan semata. Padahal perkembangan setiap perempuan akan berbeda, begitu juga jika usia kehamilannya sudah bertambah. Konselor nantinya akan memberitahu apa saja yang akan keluar dalam setiap usia kehamilan perempuan jadi mereka juga bisa mempertimbangkan apakah mereka siap untuk menghentikan usia kehamilan atau mau mengubah keputusan.
  4. Kondisi kehamilan berbahaya untuk dihentikan dengan obat Nggak semua kehamilan aman untuk dihentikan dengan obat. Pastikan kamu tidak mengalami kondisi-kondisi ini sebelum menghentikan kehamilan. Selain itu nih, kondisi kehamilan berisiko seperti placenta previa di mana placenta membelit kandungan dan menutup jalan lahir maupun hamil anggur dan hamil di luar kandungan juga tidak bisa dihentikan dengan obat. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa menghentikan kehamilan lho. Kamu bisa mengakses aspirasi vakum, atau dalam situasi hamil anggur maupun hamil di luar kandungan kamu bisa pergi ke dokter terdekat dan minta mereka menghentikan kehamilan karena situasi ini terhitung situasi kehamilan berbahaya.

Tapi aku nggak ingin ada yang tahu tentang kehamilanku. Boleh nggak kalau pasanganku saja yang konseling? Pasangan, keluarga, teman atau siapapun yang kamu percayai boleh banget join dalam proses konseling. Pastinya sebatas kamu mengizinkan. Selain itu, masa sih kamu yang menjalani prosesnya tapi kamu nggak ingin tahu informasinya? Lagi pula dengan konseling sendiri kan kamu jadi lebih mantap dengan keputusan yang kamu ambil karena kamu juga lebih paham tentang apa-apa yang akan terjadi nantinya.

Tenang saja, semua informasi yang didiskusikan dalam proses konseling sepenuhnya rahasia. Selain itu konselor juga akan berusaha sedapat mungkin untuk bersikap netral terhadap keputusanmu sepanjang kamu memang mengambil keputusan itu dengan pemikiran yang matang. Konselor yang baik akan juga pasti menghormati privasimu dan akan merahasiakan situasimu sepenuhnya. Sekarang jadi lebih yakin kan untuk konseling sendiri?

Pasanganku Trauma Setelah Aborsi, Wajarkah?

Kehamilan sudah terhenti dengan proses yang aman, fisik pun mulai kembali pulih dan kamu mulai beraktivitas kembali. Tapi kamu mulai merasa ada yang aneh dengan relasimu. Pasanganmu mulai menjauhimu, dan ketika kamu ingin berbagi perasaan tentang proses aborsi kemarin ia malah menghindar. Atau dalam kasus lain, pasangan terus-terusan membicarakan soal aborsi yang telah dijalani walaupun kamu ingin dan siap untuk segera move on dari proses itu. Kamu pun mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang terjadi?

Nah Ladies, sebagian besar dari kalian terutama yang mengikuti konseling persiapan aborsi aman mungkin sudah siap dengan kemungkinan mengalami trauma pasca aborsi. Dari konseling itu juga perempuan kemudian mempersiapkan diri lebih baik untuk ‘berdamai’ dengan proses yang mereka jalani. Caranya macam-macam, bisa dengan sering membicarakannya bersama orang yang dipercaya, menangis, bahkan berdoa. Tapi ternyata, trauma pasca aborsi juga bisa dialami laki-laki lho. Sama seperti postpartum depression atau depresi pasca melahirkan yang juga dialami laki-laki. Ini terutama terjadi ketika pasangan diam-diam ingin mempertahankan kehamilan namun mengalah demi mendukung perempuan, apalagi di usia kehamilan lanjut.

Untuk menghindari pasanganmu mengalami trauma pasca aborsi, pastikan kamu dan pasangan berdiskusi dengan jujur tentang apa yang kalian inginkan. Sebelum menjalani proses aborsi pastikan pasangan juga sudah mengikuti konseling supaya pasangan juga bisa memetakan situasinya sendiri. Jika pasangan memang berat untuk mendampingi dalam proses aborsi, baik karena keyakinan, keinginannya maupun karena memiliki fobia darah kamu mungkin bisa mencoba mencari pendamping lain.

Bagaimana jika trauma terlanjur terjadi? Berikan dukungan semaksimal mungkin pada pasangan. Tentu saja ini bukan hal yang mudah dilakukan karena pasca aborsi kamu juga akan mengalami perubahan hormonal sehingga kadang merasa sedih, marah hingga merasa bersalah. Selain itu kondisi fisik juga biasanya belum optimal. Nah, kalau memberi dukungan secara langsung masih berat dalam kondisimu kamu bisa mencoba memberi dukungan dalam bentuk lain. Misal, jika pasangan ingin terus membicarakannya kamu bisa mendorong dia memulai sebuah blog seperti AskInna. Kamu juga bisa mengajaknya beribadah dan berdoa bersama jika menurut kalian hal itu bisa membantu.

Bagaimana dengan relasi yang berubah pasca aborsi? Walaupun kadang hal ini terasa sangat berat namun ini juga salah satu proses yang sangat wajar terjadi. Jika kamu atau pasangan membutuhkan bantuan untuk menghadapinya kamu bisa mencoba ngobrol dengan teman-teman konselor, orang yang bisa dipercaya atau bahkan psikolog.