Pentingnya komunitas pendukung aborsi

Artikel ini awalnya ditulis oleh Inna Hudaya di http://askinna.com/2012/06/14/komunitas-pendukung-penggugur-kandungan/

Siapa sangka 4 tahun berlalu semenjak aku memutuskan untuk melakukan aborsi dengan obat penggugur kandungan, masa-masa kritis dalam hidupku telah lewat, dan aku sekarang masih jauh harus mulai membenahi kehidupanku, takkan ada yang mudah apalagi dengan berjalan menyusuri waktu sembari bergulat dengan fikiranku sendiri yang sedikitnya masih menyimpan trauma akan peristiwa itu. Aku bersyukur Karena kini aku berada di tengah orang-orang yang memberi dukungan dan kasihnya, bahkan beberapa teman yang mengalami hal serupa kini bersama-sama saling memberi dukungan dan perhatian untuk bisa keluar dari permasalahan ini dan mampu menjadi pribadi yang lebih baik.

Pada suatu kesempatan bersama Grace dan Kiki, kami sempat membicarakan tentang apa saja hikmah yang kami peroleh dari hal traumatis dan bagaimana melewati hal itu bisa membantu kami menjadi orang yang lebih baik, aku sempat sedikit bercerita tentang bagaimana aku belajar mengenal diriku sendiri dan memahami bagian-bagian terapuh juga terkuat dalam diriku, kiki dan grace tersenyum dan sepertinya pandangan mata mereka yang berbinar cukup membuatku paham bahwa mereka juga merasakan hal yang sama.

Harus di akui bahwa forum seperti ini sangat penting dalam membangun komunikasi dan meningkatkan rasa percaya diri bagi mereka yang juga menjadi korban obat penggugur kandungan. Tidak mudah bagi seorang post abortus mengeluarkan isi pikiran mereka dan membaginya bersama orang lain. Rasa khawatir bahwa orang lain tidak memahami apa yang mereka rasakan seringkali membuat seorang post abortus akhirnya berkutat dengan fikirannya sendiri. Berada dalam sebuah komunitas yang tepat dapat membantu seorang post abortus mengerti bahwa ia tidak sendiri dan bahwa ada orang lain yang juga berada di posisinya dan merasakan hal yang sama. Meskipun tidak secara detail menceritakan pengalamannya namun kadang cerita orang lain dapat membuat seorang post abortus cukup mengerti bahwa ia bersama orang-orang yang juga ikut menanggung beban yang sama, dan tentunya akan bersama-sama pula mencari jalan keluar dari permasalahan ini.

Ada beberapa bagian yang mungkin tidak bisa aku bagi bersama komunitas, namun ketika kiki mulai menceritakan beberapa bagian pengalamannya, hal itu sudah cukup membuat aku merasa terwakili. Seperti itu pula bagi orang lain yang bahkan tidak bisa menceritakan pengalamannya, kadang dengan medengarkan cerita orang lain itu sudah cukup membuat dirinya terwakili. Minum obat penggugur kandungan bukanlah sesuatu yang mudah diceritakan kembali.

Sebuah komunitas pendukung tidak hanya di butuhkan dalam waktu-waktu tertentu di mana kita bisa berkumpul dan melakukan sharing. Namun di luar waktu tersebut, tidak ada batasan untuk tetap saling berkomunikasi dan saling memberikan supportnya. Bagaimanapun juga kadang kita merasa kuat dan tegar ketika berada di tengah-tengah komunitas namun ketika kemudian kita di hadapkan pada dunia luar, kita kembali merasa terasing.

Ada banyak hal yang dapat menstimulasi trauma kita sehingga akhirnya terjadi re-experience, dan hal itu bukan hal yang mudah. Dalam beberapa kesempatan ketika berada di kota Jakarta aku sempat mengalami drop. Setiap kali aku berada di jalanan atau di busway atau di mal, aku selalu merasa seperti aku melihat Bram dan fikiran aku sudah berkhayal jauh tentang apa yang ingin aku lakukan jika aku bertemu dengan Bram, kadang aku terduduk di sudut jalan hanya sibuk dengan fikiran aku sendiri yang penuh amarah dan kebencian. Selalu terbersit keinginan untuk bisa setidaknya sekali saja menampar bram tepat di pipi kanannya, dan aku bahkan sudah menyusun kata-kata apa saja yang akan aku lontarkan di hadapannya. Semua khayalan itu sudah tertata dengan begitu apiknya di kepala aku dan setiap kali aku berada di Jakarta maka keinginan itu selalu terbersit kembali. Namun pada satu titik tertentu di antara fikiran yang melayang-layang tersebut ada satu kesadaran bahwa aku sudah terbawa jauh ke dalam amarah dan kebencian yang ada di dalam diri aku. Pada saat-saat seperti itulah komunitas pendukung di butuhkan, bisaanya aku akan segera menelpon orangtua aku dan menceritakan apa yang aku alami, bisaanya mereka akan membantu aku mengatasi perasaan aku dan membuat aku merasa lebih baik. Di lain kesempatan aku memposting pengalaman tersebut di forum komunitas online atau mengirim email kepada beberapa teman dan sharing tentang hal itu. Tidak hanya aku yang mengalami hal itu, beberapa teman juga seringkali mengirim sms atau menelpon aku jika tengah mengalami masa-masa sulit seperti itu. Itulah kenapa kemudian komunitas pendukung menjadi penting dalam proses pemulihan setelah.

Nilai-nilai Seputar Aborsi dan Cara Menjembataninya

bahagia pasca aborsiAborsi selalu menjadi isu kontroversial. Di banyak negara yang sudah melegalkan aborsi pun keputusan ini tidak selalu bisa diterima, apalagi karena banyak nilai-nilai seputar aborsi yang masih menganggapnya sebagai bentuk kejahatan, keegoisan, bahkan dosa. Ini tentu saja bisa berpotensi menyebabkan perempuan merasa bersalah, berdosa, menyesal, tertekan bahkan mengalami depresi dan PTSD pasca tindakan. Pastinya sih selain masalah hormonal yang bisa menyebabkan mood kamu juga naik turun laksana jet coaster ya Ladies.

Kenali dan sadari nilai-nilai seputar aborsi

Pada dasarnya setiap orang akan selalu mempertanyakan keputusan yang kamu ambil, apalagi ketika keputusannya berskala sebesar aborsi. Sejak awal kita diberikan nilai-nilai yang menyatakan bahwa aborsi adalah perbuatan egois dan dosa. Biasanya nilai-nilai ini merupakan wujud stigmatisasi sosial hingga ajaran agama. Selain itu, norma hukum kita juga masih sangat membatasi akses aborsi dengan ketat sehingga perempuan yang tidak mengalami kedaruratan medis atau kekerasan seksual bisa dipidana ketika melakukan aborsi.

Ketika kita terus menerima nilai dan norma-norma ini tentu saja akan sangat sulit untuk menentangnya, apalagi ketika kita berada dalam situasi di mana kita mengambil keputusan yang bertentangan dengan norma-norma ini. Belum lagi ketika perempuan akhirnya memutuskan mengakses aborsi biasanya mereka sudah melalui proses berpikir yang sangat panjang. Tidak jarang juga proses berpikir ini terasa sangat menyakitkan sehingga pasca aborsi kadang perempuan terus merasa bersalah sehingga terjadi depresi.

Apa yang bisa dilakukan dalam situasi ini?

Agar kita bisa terhindar dari depresi pasca aborsi pastikan kamu selalu ingat alasanmu menghentikan kehamilan, apapun alasanmu itu. Dan selalu sadari bahwa aborsi aman merupakan pemenuhan hak kesehatan reproduksimu sebagai perempuan. Bicaralah dengan pasangan atau orang terdekat. Bisakah berdoa pasca aborsi? Jika kamu memang menginginkannya dan merasa lebih tenang dengan berdoa lakukan saja. Bukankah Tuhan maha pengampun? Jika kamu belum siap untuk berdoa juga tidak masalah, yang penting kamu memiliki sumber-sumber daya yang bisa mendukungmu dalam situasi ini sepenuhnya.

Lalu apakah aborsi sama dengan pembunuhan? Sama sekali tidak selama usia kandunganmu masih kurang dari 22 minggu. Usia 22 minggu ditetapkan karena ketika kandungan sudah lebih besar dari itu maka janin sudah bisa bertahan hidup di luar tubuh kita. Tapi janinnya kan sudah membentuk di usia kehamilan kurang dari itu? Ya, itu betul. Tapi mengutip kata-kata dari sebuah akun feminis di media sosial, “Ketika terjadi kebakaran di sebuah rumah sakit dan kamu tahu di sana ada sebuah ruangan penyimpanan berisi jutaan ebrio serta seorang anak kecil di ruangan terpisah, apakah kamu akan menyelamatkan seorang anak kecil atau menyelamatkan embrio dan janin?” Dengan menjawab pertanyaan ini dengan jujur kamu bisa melakukan refleksi lebih jauh. Apakah tidak menyelamatkan janin/embrio adalah pembunuhan?

Semoga artikel ini bisa sedikit memberikan dukungan bagimu dalam situasi sulit ya Ladies. Stay safe and happy! 😀

by: CP

Berdamai Pasca Aborsi dan Terhindar dari Trauma

Setelah aborsi selesai kadang perempuan masih merasakan dampak emosional dan psikologis pasca aborsi. Ketika itulah perempuan perlu berdamai pasca aborsi agar ia tidak terhanyut dalam kesedihan, marah dan perasaan bersalah dan bisa tetap berbahagia dalam menghadapi hari-harinya.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa kamu katakan pada dirimu sendiri pasca tindakan untuk mengingatkan dirimu bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja dan bisa terhindar dari trauma.

  • Kamu sepenuhnya berhak merasakan semua yang kamu rasakan saat ini

Ladies, proses menghentikan kehamilan bisa jadi proses yang sangat berat. Meskipun begitu kamu telah melaluinya, karena itu kamu berhak untuk mengeluarkan emosi yang telah kamu pendam sebelum dan selama tindakan. Ingatlah, it’s okay not to be okay!

  • Apa yang kamu rasakan ini sepenuhnya normal dan kamu bisa berdamai pasca aborsi

    Setelah berjuang untuk menetapkan solusi yang terbaik dalam kehamilan tidak direncanakan yang kamu alami dan menjalaninya, wajar sekali jika kamu butuh istirahat dan tempat bersandar. Selain itu, pasca aborsi hormonmu sedang kurang seimbang sehingga bisa jadi kamu merasakan marah, sedih, hingga perasaan bersalah. Jika memang keadaanmu disebabkan oleh hormon biasanya keadaan akan membaik dalam tiga minggu. Tapi jika kamu terus bersedih hingga 3 bulan atau bahkan lebih maka kamu butuh bantuan. Bisa dari orang terdekat, atau bahkan ke psikolog.

  • Kehamilan tidak direncanakan bisa terjadi pada siapa saja

    Mengalami kehamilan tidak direncanakan bukan berarti kamu bersalah atau kurang waspada. Ingat, kehamilan tidak direncanakan sangat wajar dan bisa terjadi pada siapapun selama ia adalah perempuan yang masih subur.

  • Semua pilihan dalam kehamilan tidak direncanakan adalah pilihan yang sulit

    Dalam kehamilan tidak direncanakan perempuan punya 3 pilihan untuk dipertimbangkan. Semua opsi tersebut punya konsekuensi tersendiri dan semuanya tidak mudah. Bahwa kamu sudah berani melangkah dan mengambil keputusan saja sudah menunjukkan bahwa kamu memiliki keberanian lebih walaupun kamu bisa saja tetap merasa takut saat menghadapinya.

  • Ingat lagi alasan kamu memilih menghentikan kehamilan

    Banyak sekali alasan perempuan melakukan aborsi dan semuanya bukan alasan yang egois. Bahwa kamu ingin meraih masa depan sebelum memiliki anak? Tidak masalah. Dengan begitu kamu mungkin akan memiliki masa depan yang baik dan pada akhirnya bisa mempersiapkan masa depan anakmu nanti. Tidak ingin memiliki anak? Perempuan yang tidak ingin memiliki anak juga bukan perempuan yang egois lho. Bisa jadi mereka justru menyadari keterbatasan mereka sehingga ingin menghindari memiliki anak ketimbang tidak bisa membesarkan anak dengan maksimal.

Nah, semoga tulisan ini membantumu menghadapi apapun perasaan yang kamu rasakan saat ini ya Ladies. Oya, tulisan ini boleh lho kamu bagikan dengan pasangan juga agar dia lebih menyadari dan memahami apa yang tengah kamu rasakan.

Ingin Aborsimu Tetap Aman? Konseling Dulu Yaaa…

Segala yang tidak direncanakan itu biasanya mengejutkan dan seringkali juga membuat panik, apalagi jika yang tidak direncanakan itu adalah kehamilan. Dalam keadaan panik dan bingung, bahkan kadang juga putus asa, perempuan atau pasangan maupun keluarga terdekat langsung saja berusaha menghentikan kehamilan. Padahal nih, memaksakan menghentikan kehamilan tanpa konseling itu bisa sangat berbahaya lho bagi perempuannya. Sebetulnya apa saja sih yang menyebabkan konseling penting bagi perempuan? Yuk kita cek sama-sama…

  1. Tertipu penyedia layanan aborsiDalam keadaan panik, perempuan bisa jadi sulit membedakan mana informasi yang terpercaya dan mana yang perlu dipertanyakan. Alhasil mereka pun lebih rentan menjadi korban penipuan layanan aborsi. Hmm, memang seperti apa saja sih kriteria penipuan layanan aborsi? Jika kamu memilih aborsi dengan obat memang agak susah untuk memastikan kecuali jika kamu sudah membayar tapi obat tidak dikirim. Layanan kuret pun seringkali begitu. Seringkali perempuan baru sadar mereka terjebak dalam layanan tidak terpercaya ketika di kliniknya perempuan diminta membayar lebih dari harga yang sudah disepakati di awal komunikasi. Lalu seperti apa sih penyedia layanan yang terpercaya? Baca lebih lengkap di sini untuk tahu siapa saja sih penyedia obat yang harus kamu jauhi atau yang bisa kamu percaya. Langsung telepon konselormu juga untuk tahu klinik mana sih yang aman, legal dan recommended untuk menghentikan kehamilan.
  2. Salah cara penggunaan atau dosis obat  Yang namanya penjual obat belum tentu semuanya tahu cara penggunaan obat yang benar lho. Selain itu bisa jadi cara penggunaan obat yang mereka tahu berbeda dengan cara penggunaan yang tepat untuk usia kehamilanmu. Jangan khawatir, konselor akan memastikan cara pakai obat dan dosis yang paling tepat untuk kamu jadi kamu juga bisa memastikan kalau aborsimu aman.
  3. Trauma Trauma pasca aborsi umumnya terjadi karena 2 hal. Pertama, ketika perempuan sebenarnya ingin menghindari opsi aborsi namun lingkungan terus menekan atau memanipulasi perempuan untuk menghentikan kehamilan. Dengan curhat langsung terlebih dulu ke konselor biasanya perempuan akan sadar bahwa ia masih punya pilihan lain dan mampu mengusahakan opsi-opsi lain itu. Penyebab lain adalah ketika perempuan membayangkan hasil konsepsi yang keluar sebagai gumpalan darah dan kantong kehamilan semata. Padahal perkembangan setiap perempuan akan berbeda, begitu juga jika usia kehamilannya sudah bertambah. Konselor nantinya akan memberitahu apa saja yang akan keluar dalam setiap usia kehamilan perempuan jadi mereka juga bisa mempertimbangkan apakah mereka siap untuk menghentikan usia kehamilan atau mau mengubah keputusan.
  4. Kondisi kehamilan berbahaya untuk dihentikan dengan obat Nggak semua kehamilan aman untuk dihentikan dengan obat. Pastikan kamu tidak mengalami kondisi-kondisi ini sebelum menghentikan kehamilan. Selain itu nih, kondisi kehamilan berisiko seperti placenta previa di mana placenta membelit kandungan dan menutup jalan lahir maupun hamil anggur dan hamil di luar kandungan juga tidak bisa dihentikan dengan obat. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa menghentikan kehamilan lho. Kamu bisa mengakses aspirasi vakum, atau dalam situasi hamil anggur maupun hamil di luar kandungan kamu bisa pergi ke dokter terdekat dan minta mereka menghentikan kehamilan karena situasi ini terhitung situasi kehamilan berbahaya.

Tapi aku nggak ingin ada yang tahu tentang kehamilanku. Boleh nggak kalau pasanganku saja yang konseling? Pasangan, keluarga, teman atau siapapun yang kamu percayai boleh banget join dalam proses konseling. Pastinya sebatas kamu mengizinkan. Selain itu, masa sih kamu yang menjalani prosesnya tapi kamu nggak ingin tahu informasinya? Lagi pula dengan konseling sendiri kan kamu jadi lebih mantap dengan keputusan yang kamu ambil karena kamu juga lebih paham tentang apa-apa yang akan terjadi nantinya.

Tenang saja, semua informasi yang didiskusikan dalam proses konseling sepenuhnya rahasia. Selain itu konselor juga akan berusaha sedapat mungkin untuk bersikap netral terhadap keputusanmu sepanjang kamu memang mengambil keputusan itu dengan pemikiran yang matang. Konselor yang baik akan juga pasti menghormati privasimu dan akan merahasiakan situasimu sepenuhnya. Sekarang jadi lebih yakin kan untuk konseling sendiri?

Pasanganku Trauma Setelah Aborsi, Wajarkah?

Kehamilan sudah terhenti dengan proses yang aman, fisik pun mulai kembali pulih dan kamu mulai beraktivitas kembali. Tapi kamu mulai merasa ada yang aneh dengan relasimu. Pasanganmu mulai menjauhimu, dan ketika kamu ingin berbagi perasaan tentang proses aborsi kemarin ia malah menghindar. Atau dalam kasus lain, pasangan terus-terusan membicarakan soal aborsi yang telah dijalani walaupun kamu ingin dan siap untuk segera move on dari proses itu. Kamu pun mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang terjadi?

Nah Ladies, sebagian besar dari kalian terutama yang mengikuti konseling persiapan aborsi aman mungkin sudah siap dengan kemungkinan mengalami trauma pasca aborsi. Dari konseling itu juga perempuan kemudian mempersiapkan diri lebih baik untuk ‘berdamai’ dengan proses yang mereka jalani. Caranya macam-macam, bisa dengan sering membicarakannya bersama orang yang dipercaya, menangis, bahkan berdoa. Tapi ternyata, trauma pasca aborsi juga bisa dialami laki-laki lho. Sama seperti postpartum depression atau depresi pasca melahirkan yang juga dialami laki-laki. Ini terutama terjadi ketika pasangan diam-diam ingin mempertahankan kehamilan namun mengalah demi mendukung perempuan, apalagi di usia kehamilan lanjut.

Untuk menghindari pasanganmu mengalami trauma pasca aborsi, pastikan kamu dan pasangan berdiskusi dengan jujur tentang apa yang kalian inginkan. Sebelum menjalani proses aborsi pastikan pasangan juga sudah mengikuti konseling supaya pasangan juga bisa memetakan situasinya sendiri. Jika pasangan memang berat untuk mendampingi dalam proses aborsi, baik karena keyakinan, keinginannya maupun karena memiliki fobia darah kamu mungkin bisa mencoba mencari pendamping lain.

Bagaimana jika trauma terlanjur terjadi? Berikan dukungan semaksimal mungkin pada pasangan. Tentu saja ini bukan hal yang mudah dilakukan karena pasca aborsi kamu juga akan mengalami perubahan hormonal sehingga kadang merasa sedih, marah hingga merasa bersalah. Selain itu kondisi fisik juga biasanya belum optimal. Nah, kalau memberi dukungan secara langsung masih berat dalam kondisimu kamu bisa mencoba memberi dukungan dalam bentuk lain. Misal, jika pasangan ingin terus membicarakannya kamu bisa mendorong dia memulai sebuah blog seperti AskInna. Kamu juga bisa mengajaknya beribadah dan berdoa bersama jika menurut kalian hal itu bisa membantu.

Bagaimana dengan relasi yang berubah pasca aborsi? Walaupun kadang hal ini terasa sangat berat namun ini juga salah satu proses yang sangat wajar terjadi. Jika kamu atau pasangan membutuhkan bantuan untuk menghadapinya kamu bisa mencoba ngobrol dengan teman-teman konselor, orang yang bisa dipercaya atau bahkan psikolog.