siap aborsi medis

Good news!

Pada perayaaan Hari Perempuan Internasional tahun ini, Badan Kesehatan Dunia telah mengeluarkan panduan terbaru untuk aborsi aman. Panduan ini biasa dikeluarkan setiap 10 tahun sekali berdasarkan hasil penelitian terbaru dan rekomendasi dari tim ahli.

Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, perempuan di Indonesia telah berkontribusi dalam beberapa penelitian aborsi aman. Penelitian ini fokus pada efektifitas aborsi medis yang dilakukan sendiri di rumah oleh perempuan, atau yang lebih dikenal sebagai self-managed abortion. Hasil riset ini telah dipublikasikan pada beberapa jurnal internasional. Hal ini menjadi berkontribusi besar dalam membuka jalan bagi penelitian serupa dalam 1 dekade ini. Karena hal ini pula, Website ini menjadi salah satu undangan dalam salah satu pertemuan konsultasi pada tahun 2019 yang dilaksanakan di kantor WHO di Geneva, Switzerland.

HIGHLIGHTS

Self-managed abortion aman dan efektif

Untuk pertama kalinya secara jelas WHO menyebutkan bahwa aborsi medis pada trimester pertama bisa dilakukan tidak hanya oleh petugas medis, tapi juga oleh individu atau perempuan yang hamil. WHO bahkan merekomendasikan negara dan sistem kesehatan untuk mendukung self-managed abortion karena ini merupakan pendekatan yang memberdayakan perempuan, serta membantu mengurangi beban sistem kesehatan.

Dalam panduan ini juga disebutkan bahwa untuk aborsi medis hingga trimester pertama, aborsi tidak harus dilakukan di klinik.

Letrozole

Obat yang selama ini digunakan adalah, kombinasi mifepristone dan misoprostol, atau misoprostol saja. Sama halnya dengan mifepristone, letrozole dapat digunakan dalam kombinasi dengan misoprostol untuk usia kehamilan awal. 

Letrozole adalah penghambat aromatase selektif generasi ketiga. Mekanisme kerjanya melibatkan penekanan kadar estrogen, yang mengubah konsentrasi reseptor progesteron, yang kemudian menyebabkan keguguran.

Letrozole adalah obat yang biasa digunakan dalam pengobatan infertilitas dan kanker, oleh karena itu ketersediaannya lebih luas di berbagai negara. Selain itu, rendahnya biaya letrozole merupakan faktor lain yang membuat metode ini menjadi metode alternatif untuk aborsi medis.

Pemberi Layanan

Dalam panduan ini WHO memberikan deskripsi yang lebih jelas terkait siapa saja yang bisa memberikan layanan aborsi medis. Jika selama ini masih terus ada perdebatan terkait hal ini, kali ini semakin jelas disebutkan bahwa petugas medis yang dapat memberikan layanan aborsi medis tidak hanya terbatas pada dokter spesialis dan dokter umum, melainkan juga petugas medis lainna seperti perawat, perawat pembantu, bidan, bidan pembantu, dll.

Buah kerja keras dan kerja bareng

Terimakasih untuk kalian semua yang pernah terlibat dalam riset atau quiz di website ini. Cerita dan pengalaman kalian telah membuahkan hasil dan perubahan. Tidak hanya merubah nasib kalian, tapi juga merubah nasib banyak perempuan di dunia.

Penasaran apa aja yang ada dalam panduan ini? Cek disini.